//
you're reading...
Bangkitkan Iman, Penasaran

Analisa Tentang Ajaran Syari’at, Tarekat, dan Ma’rifat Sunan Kalijaga

Ada beberapa tahapan yang harus dilalui oleh seorang hamba yang menekuni ajaran tasawuf untuk mencapai suatu tujuan yang disebut sebagai As-Sa’adah menurut Al-Ghazali Insanul Kamil oleh Muhyiddin bin ‘Arabiy dan Sangkan Paran (asal dan kembalinya manusia) menurut Sunan Kalijaga. Diantara tahapan itu adalah Syari’at, Tharikat, dan Makrifat. Dari beberapa tahapan tersebut secara ringkas dapat dijelaskan sebagai berikut:

1.Syari’at
Syari’at adalah hukum-hukum yang telah oleh Allah SWT kepada Rasulullah SAW yang telah ditetapkan oleh nash al-Qur’an maupun as-Sunnah atau dengan cara istimbat, yaitu hukum-hukum yang telah diterangkan dalam ilmu Tauhid, ilmu Fiqh, dan ilmu Tasawuf. Isi syari’at mencakup segala macam perintah dan larangan dari Allah SWT. Perintah-perintah itu disebut sebagai istilah ma’ruf yang meliputi perbuatan yang hukumnya wajib atau fardlu, sunat, mubah, atau kebolehan. Sedangkan larangan-larangan Allah SWT disebut dengan munkarat meliputi perbuatan yang hukumnya haram dan makruh. Baik yang ma’ruf maupun munkarat sudah ada petunjuknya dalam al-Qur’an dan as-Sunnah.
Sedangkan hukum-hukum yang dimaksud di sini adalah hukum-hukum yang ditetapkan para fuqaha yang menyangkut ibadah mahdhah (murni) dan ibadah ghairu mahdhah atau yang sering disebut dengan muamalah (ibadah umum), hukum-hukum yang ditetapkan oleh Ulama Mutakallimin (ahli ilmu Tauhid/teolog) yang mengikuti iman kepada Allah SWT, Malaikat, Kitab-kitab, Para Rasul, iman terhadap hari akhir serta qadha dan qadar dari Allah SWT yang diwujudkan dengan bentuk ketaqwaan dengan dinyatakan dalam perbuatan ma’ruf yang mengandung hukum wajib, sunnah, dan mubah. Begitu juga hukum-hukum yang telah ditetapkan oleh ulama tasawuf yang meliputi sikap dan perilaku manusia yang berusaha membersihkan dirinya dari hadast dan najis lahir serta maksiat yang nyata dengan istilah Takhalli. Lalu berusaha melakukan kebaikan yang nyata untuk menanamkan kebaikan pada dirinya kebiasaan-kebiasaan terpuji dengan istilah Al-Tahalli.
Mengenai pengalaman syari’at Sunan Kalijaga di dalam kitab Suluk Linglung yang merupakan salah satu kitab Sunan Kalijaga yang beberapa saat sebelum wafatnya. Di dalam Suluk Seh Malaya dan Suluk Linglung Seh Malaya, sunan kalijaga telah menyinggung pentingnya shalat dan Ibadah Haji dengan tertib dan sungguh-sungguh seperti yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.
Semisal untuk memahami makna shalat dan sembahyang yang diajarkan Sunan Bonang kepada muridnya Sunan Kalijaga, marilah kita lihat salah satu bait tembang dalam Suluk Wujil sebagai berikut:
“Utamaning sarira puniki
angawruhana jatining salat
sembah lawan pujiné
jatining salat iku
dudu ngisa tuwin magerib
sembahyang aranéka
wenangé puniku
lamun aranana salat
pan minangka kekembanging
salat daim ingaran tata krama//”

“Unggulnya diri itu mengetahui hakikat salat, sembah dan pujian. Salat yang sebenarnya bukan mengerjakan shalat Isya atau Magrib. Itu namanya sembahyang apabila disebut salat, maka itu hanyalah hiasan dari salat daim. Hanyalah tata krama”.

Dari bait di atas dapat disimpulkan bahwa keunggulan seseorang terletak pada pemahaman dan penghayatan dari kesejatian salat, penyembahan, dan pujian. Bukan pada pengerjaan salat lima waktu, karena mengerjakan salat lima kali sehari itu disebut “sembahyang”. Sifatnya hanya tata krama dalam pergaulan umat Islam. Dan, hakikat mengerjakan salat lima kali itu hanyalah hiasan bagi “salat daim”. Dalam sarasehan para Wali pun disebutkan bahwa salat yang sempurna bukan semata-mata melaksanakan salat fisik itu sendiri.
Dalam pengalaman perjalanan spiritualnya juga Sunan Kalijaga mengajarkan untuk menjalankan ibadah haji, sebagai pesan yang didapatkan Sunan Kalijaga saat beliau bertemu dengan Nabi khidir “Lamun siro arsa munggah kaji, marang mekah kaki ana apa,…lamon ora weruh ing kakbah sejati, tan wruh iman hidayat”, artinya: jika kamu akan melakukan ibadah haji ke mekkah, kamu harus tau tujuan yang sebenarnya. Bila belum tahu tujuan yang sebenarnya ibadah haji, tentu apa yang dilakukan itu sia-sia belaka. Demikian itu sesungguhnya iman hidayah yang harus kau yakini dalam hati

2.Tarekat
Tarekat adalah pengalaman syari’at, melaksanakan beban ibadah dengan tekun dan menjauhkan diri dari sikap mempermudah ibadah, yang sebenarnya memang tidak boleh dipermudah (diremehkan). Kata tarekat dapat dilihat dari dua mata sisi amaliah ibadah dan dari sisi organisasi (perkumpulan). Sisi amaliah ibadah merupakan latihan kejiwaan, baik yang dilakukan oleh seorang atau secara bersama-sama, dengan melalui dan mentaati aturan tertentu untuk mencapai tingkatan kerohaian yang disebut maqamat atau al-ahwal, yang mana latihan ini diadakan secara berkala yang juga dikenal dengan istilah suluk. Sedangkan dari sisi organisasi maka tarekat berarti sekumpulan salik (orang yang melakukan suluk) yang sedang menjalani latihan kerohaian tertentu yang bertujuan untuk mencapai tingkat atau maqam tertentu yang dibimbing dan dituntun oleh seorang guru yang disebut mursyid.
Dalam jalan Tarekat Sunan Kalijaga mengamalkan zikir atau meditasi dalam kehidupan sehari-hari, merupakan cara untuk mencapai kesadaran hidup. Bentuk dari kesadaran hidup itu adalah amar makruf nahi munkar dengan basis budaya Jawa. Islam yang ketika lahir penuh kelemah-lembutan, dan menjadi keras wataknya di tangan para mubaligh Timur Tengah, ditawarkan oleh Sunan dengan kelembutan Jawa. Islam yang dibawa Sunan benar-benar menjadi rahmat bagi sekalian alam. Islam dibawakan dengan gaya terekatnya sendiri. Yaitu, tirakat ala Jawa (meditasi dan Kontemplasi).

3.Makrifat
Makrifat adalah hadirnya kebenaran Allah pada seorang Sufi dalam keadaan hatinya selalu berhubungan dengan “Nur Ilahi”. Makrifat membuat ketenangan dalam hati, sebagaimana ilmu pengetahuan membuat ketenangan dalam akal pikiran. Barang meningkat makrifatnya, maka meningkat pula ketenangan hatinya.
Akan tetapi tidak semua sufi dapat mencapai pada tingkatan ini, karena itu seorang sufi yang sudah sampai pada tingkatan makrifat ini memiliki tanda-tanda tertentu, antara lain :
a. Selalu memancar cahaya makrifat padanya dalam segala sikap dan perilakunya. Karena itu sikap wara selalu ada pada dirinya.
b. Tidak menjadikan keputusan pada suatu yang berdasarkan fakta yang bersifat nyata, karena hal-hal yang nyata menurut ajaran Tasawuf belum tentu benar.
c. Tidak meginginkan nikmat Allah yang banyak buat dirinya, karena hal itu bisa membawanya pada hal yang haram.
Dari sinilah kita dapat melihat bahwa seorang sufi tidak menginginkan kemewahan dalam hidupnya, kiranya kebutuhan duniawi sekedar untuk menunjang ibadahnya, dan tingkatan makrifat yang dimiliki cukup menjadikan ia bahagia dalam hidupnya karena merasa selalu bersama-sama dengan Tuhannya.

Sampai pada tingkatan yang paling tinggi dalam pencapaiannya sebagai seorang sufi, Sunan Kalijaga telah melewati beberapa tahapan untuk dapat menuju tingkatan makrifat dan mengenal siapa dirinya. Dalam perjalanan spiritualnya yang digambarkan dalam sebuah simbol kehidupan.

Dalam Suluk seh Malaya disebutkan “Lamun siro arsa munggah kaji, marang mekah kaki ana apa,….lamon ora weruh ing kakbah sejati, tan wruh iman hidayat” artinya, jika kamu akan melaksanakan ibadah haji ke Mekkah, kamu harus tau tujuan. Bila belum tahu tujuan yang sebenarnya dari ibadah haji, tentu apa yang dilakukan itu sia-sia belaka. Demikianlah sesungguhnya iman hidayat yang harus kau yakini dalam hati.
Keyakinan iman hidayat tidak mungkin ditemukan di luar diri manusia, namun ia sesungguhnya terletak di dalam diri atau batin manusia itu sendiri. Dalam naskah Suluk Linglung disebutkan “cahaya gumawang tan wruh arane, pancamaya rampun, sejatine tyasira yekti, pangareping salira”. Artinya, cahaya yang mencorong tapi tidak diketahui namanya adalah pancamaya yang sebenarnya ada di dalam hatimu sendiri, bahkan mangatur dan memimpin dirimu.

Maksudnya manusia yang telah menyingkap dimensi batinnya, akan mengetahui hakikatnya, bahwa asal-usulnya dari Allah, berupa kesatuan hamba dengan Tuhan adalah Manunggaling Kawula-Gusti atau dalam Suluk Linglung diungkapkan dengan iman hidayat. Proses ini dalam Suluk Linglung tercermin dalam kutipan “Lah ta mara seh Malaya aglis, umanjinga guwa garbaningwang” , artinya, Seh Malaya segeralah kemari secepatnya, masuklah ke dalam tubuhku. Dalam tahap ini jiwa manusia bersatu dengan jiwa semesta. Melalui kebersatuan ini maka manusia mencapai kawruh sangkan paraning dumadi, yaitu pengetahuan atau ilmu tentang asal-usul dan tujuan segala apa yang di ciptakan-Nya.
Tahap-tahap menuju suluk di jalan Allah dengan menempuh jalan yang di ridhoi Allah, demi kebahagiaan abadi baik di dunia dan di akhirat, telah diajarkan dengan baik oleh Sunan Kalijaga dengan menekankan pentingnya ajaran syari’at guna menggapai ajaran tarekat dan makrifat. (NBA)

Referensi :
o    Haqq, Suluk Seh Malaya, Yogyakarta: Kulawarga Bbratakesawa, 1959, Asmaradana.
o    Neil Mulder, Kebatinan dan Hidup Sehari-hari Orang Jawa Kelangsungan dan Perubahan Kultural, Jakarta: Gramedia, 1983.

Lihat: http://networkedblogs.com/4Nk7z

About erwinpunyaku

Salam kenal bagi siapa saja yang mau berkenalan dan bersahabat dengan saya.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Pengunjung

free counters

%d bloggers like this: