//
you're reading...
Pengalaman

Bebek di Dusun Nglengis Banyurejo, Tempel, Sleman Yogyakarta

    Ketika mengunjungi Dusun ini (05/03/2012), saya langsung disambut guyuran hujan, saya berkeliling kesana kemari mengitari Dusun mencari peternakan bebek, namun saya hanya menemukan kandang bebek kecil-kecilan. Hujanpun semakin lebat dan saya terpaksa berteduh di salah satu rumah warga di Nglengis Wetan, milik Bu Radiono Rt.4 Rw 28.  Ketika itu saya melihat ada bapak-bapak dan anaknya yang sedang angon bebek atau menggembalakan bebek. Jumlah bebeknya sekitar 50-an sepertinya akan dikandangkan. Belum lama berselang saya pun mengejarnya, namun sayang sekali saya kehilangan jejak dan belum berkesempatan mengambil gambarnya. Saya bertanya kepada warga, ternyata bapak-bapak itu hanya pendatang yang hanya memanfaatkan lahan di sekitar Nglengis untuk menggembalakan bebeknya. Menurut keterangan warga, usaha peternakan bebek di Nglengis sudah turun temurun sejak dahulu yaitu sekitar tahun 60-an. Dahulunya sempat berjaya, bagus namun sekarang sedang meredup. Warga memilih beristirahat dari memelihara bebek dan beralih memelihara sapi khususnya di Nglengis Wetan.
Saya kemudian melanjutkan penelusuran dan bertanya kepada warga sekitar tentang bebek yang dipelihara warga di sini. Bebek-bebek itu dipelihara di belakang atau disamping rumah, tidak kelihatan memang dari jalan, namun pada saat-saat tertentu seperti saat bebek digembalakan, maka baru terlihat bahwa tempat itu menjadi tempat beternak bebek. Setelah berbincang-bincang dengan warga, saya menjadi tahu ternyata di Dusun ini banyak yang memelihara bebek termasuk beliau juga memelihara. Beliau sungkan untuk menyebutkan namanya dan saya memakluminya, cukup keterangan dari beliau saja yang ingin saya ketahui.  Produksi bebek di Dusun Nglengis ini sudah mempunyai nama atau sudah dikenal cukup luas. Di kalangan Mahasiswa sendiri banyak yang mengenalnya bahkan ada juga yang menjadikan Dusun ini sebagai tempat praktikum.
Pemeliharaan bebek di Dusun ini dibagi menjadi 2; bebek ternak dan bebek ingonan (gembalaan). Bebek-bebek ingonan atau piaraan biasanya digembalakan warga sekitar pukul 10 pagi, dan biasanya pulang kembali ke kandang pukul 16.00 WIB. Ada beberapa tempat pemotongan bebek di Dusun ini, biasanya beroperasi sekitar waktu sore pukul 16.00. Beliau bertutur bahwa dari Minggir, Sleman ada warga yang menitipkan bebeknya untuk digembalakan di Nglengis. Tempat gembalannya yaitu di sawah-sawah. Bebek-bebek tersebut biasanya dititipkan semalam dan dikandangkan di sawah memakai getek. Sedangkan bebek ternak hanya dikandangkan saja sampai panen, jadi pemilik harus memberi pakan setiap hari untuk memeliharanya.
Di Nglengis wetan (timur), warga yang memelihara bebek tidak banyak, hanya sekitar 5-10 orang saja, termasuk Pak Parno. Beliau memelihara anakan bebek atau meri setelah bayah kemudian dijual. Biasa dijual di Magelang. Ada juga di antara warga yang mempunyai bebek bertempat di tempat yang sama dengan tempat beternak sapi. Sengaja demikian karena lahan yang tersedia di pekarangan rumah tidak banyak, selain itu bersebelahan pula dengan tetangga. Di desa ini ada tempat pemotongan ayam, warga kurang suka dan tidak setuju dengan tempat pemotongan ayam ini. Mengapa demikian karena cara pemotongannya kurang sesuai dengan aturan Islam.
Di Nglengis Kulon (barat), saya berbincang-bincang dengan Bapak Mujiono sambil menggali informasi mengenai beliau. Beliau adalah pemilik peternakan bebek terbesar di Nglengis. Beliau sebagai penjual bebek, sekaligus usaha pemotongan bebek. Dulu beliau menekuni usaha yang bervariasi mulai dari pemotongan bebek, angon bebek, penitipan bebek, namun lebih kurang 15 tahun beralih ke bebek potong dan petelur saja. Bapak Mujiono juga melayani pemesanan ingkung bebek. Ingkung bebek mulai dikenal di daerah ini semenjak tahun 2000an, dan setelah itu semakin berkembang. Daging bebek dimasaknya lama, sehingga jika pembeli memesan ingkung bebek pada sore hari, baru bisa diambil esok paginya. Warga yang memelihara bebek berjumlah sekitar 40-an. Yang paling besar adalah peternakan bebek kepunyaan Bapak Mujiono. Beliau memelihara 500-700 ekor bebek, namun sekarang mengalami penurunan dan yang dipelihara hanya sekitar 100 ekor bebek. Dari seratusan bebek yang beliau pelihara itu, cukup 2-3 bebek pejantan yang diperlukan.
Selanjutnya saya menanyakan perihal bebek yang beliau ternakkan. Menurut Bapak Mujiono, memelihara bebek ternak atau dikenal dengan istilah “dikering”, tidak mudah. Mulanya si pemilik harus menyiapkan kandang terlebih dahulu. Kandang bebek harus sehat dan atapnya jangan sampai bocor, kalaupun sampai bocor harus segera ditangani supaya kandang kering tidak terlalu becek. Kemudian Tertib. Tertib dalam artian makanan bebek harus tertib, pagi, siang, sore harus diberi makan. Bebek harus dimanjakan, dibuat senyaman mungkin dan hindarkan dari stress. Terutama menyangkut aktifitas malam, karena di malam hari bebek gampang sekali stress kalau ada sesuatu yang mengganggunya. Dengan demikian maka hasil peternakan bebeknya akan besar. Perlu ketekunan dan kesabaran karena berbeda dengan ayam yang 35 hari sudah bisa panen, bebek sekitar 2 bulanan baru bisa dipanen.
Dari sekitar 500 bebek yang diternak, penghasilan seharinya bisa mencapai Rp. 100.000,- itupun pasang surut dan kadang minus atau merugi. Untuk pembelian, harga 1 bebeknya mencapai Rp. 50.000,- Beliau biasanya membeli bebek dari pasar Cebongan dan Godean. Pembeliannya sesuai kebutuhan, 10-15 ekor per pembelian sesuai keadaan. Lebih lanjut ungkap beliau, dari seratus ekor bebek yang beliau pelihara kalau hasil panennya mencapai 50%, maka itu belum bisa dikatakan untung. Sedangkan kalau lebih, untuk bisa untung maka itu tergantung harga pakan dan telur yang harganya fluktuatif. Harga 1 telur bisa dijual dengan harga Rp. 1.400,-
Selain itu bersebelahan dengan Dusun ini juga dikenal sebagai produsen telur asin bernama Dusun Gondang. Produksi telur asin di Dusun Gondang Nglengis, yang terkenal adalah produsi telur asin Mbak Paini. Beliau menjual sendiri telur asin buatannya dan biasanya dijual di berbagai tempat terutama di Gamping, Sleman. Harga telur asinnya per biji bisa mencapai Rp. 2.200,-. Selain itu ada lagi nama terkenal yaitu Bu Tumpuk menjadi rujukan pemesan ingkung, ingkung tersebut ada yang utuhan dan ada juga yang perbagian tubuh bebek misal dada, paha, dll. Penjualan terutama di Sleman, Seyegan, dan Godean.
Dusun Nglengis dikenal masyarakat sebagai tempat produksi daging bebek, telur bebek, telur asin bebek, dan ingkung. Namanya pun sudah tenar semenjak dahulu. Kini, produksi bebek di Dusun Nglengis mengalami penurunan. Warga mulai beralih ke hal yang  lain seperti beternak sapi, sehingga hanya beberapa orang saja yang masih menekuni usaha peternakan bebek. Itupun karena usaha ini diwariskan secara turun temurun. Kedepan mungkin bebek dari Dusun Nglengis tidak akan punya nama seperti sekarang dan dahulu. Namun demikian, ada segelintir orang yang masih setia dan menjadikan usaha di bidang ini merupakan napak tilas Dusun Nglengis yang senantiasa terukir sampai kapanpun. Bebek di Dusun Nglengis.
.

About erwinpunyaku

Salam kenal bagi siapa saja yang mau berkenalan dan bersahabat dengan saya.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Pengunjung

free counters

%d blogger menyukai ini: