//
you're reading...
Bangkitkan Iman, Mahasiswa, Penasaran, Pengalaman

Filter itu Bernama Norma

SERU ya melihat foto profil atau status teman-teman kita di beragam media jejaring sosial. Mungkin lebih seru lagi jika kita ikut melakukan hal yang sama, memasang foto dengan beragam ekspresi, atau menyuarakan isi hati dan pikiran kita.

Tapi, hati-hati, jangan sembarang posting. Salah-salah, kita akan terkena bumerang dari apa yang sudah kita posting. Sebab, semua informasi yang kita share di dunia maya akan terekam dan berbekas lebih lama ketimbang kita menyampaikannya secara langsung.

Ketua Jurusan Ilmu Jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Universitas Padjadjaran (Unpad) Herlina Agustin mengingatkan, dunia maya merupakan ruang publik yang tidak memiliki batasan ruang dan waktu. Karenanya, kita sebaiknya tidak menggunakan ruang publik virtual ini sebagai eksplorasi ruang privat.

“Sebab, kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi sesudah kita memposting sesuatu. Misalnya, jika marah kepada seseorang, sampaikan secara langsung ke orang yang bersangkutan. Kemarahan kita di ranah publik akan membekas lebih lama di ingatan banyak orang ketimbang ketika kita menyampaikannya secara privat ke orang yang membuat kita marah,” kata Herlina ketika dihubungi okezone, Rabu (11/1/2011).

Hal serupa disampaikan oleh sosiolog dari Universitas Indonesia (UI) Heri Tjandrasari. Menurut Heri, berinteraksi di dunia virtual juga perlu menerapkan norma-norma kehidupan dan tata krama ketimuran ketika berhubungan dengan orang lain.

“Misalnya, foto-foto dengan pose sangat pribadi bukan untuk dipertontonkan. Ini bukan masalah pamer, tapi lebih kepada ketidaksopanan. Sebab, yang melihat foto profil kita kan bukan cuma teman-teman seumur, tapi juga orang yang lebih tua,” tuturnya.

Wakil Rektor III Universitas Islam Indonesia (UII) Bachnas berpendapat, jejaring sosial memang menjadi sarana interaksi, terutama di kalangan anak muda. Namun, dia mengingatkan, generasi muda tetap perlu memasang filter dalam setiap interaksi yang mereka buat di dunia maya.

“Saat ini gerak anak muda dalam menjelajahi dunia maya sudah tidak dapat dibatasi. Dunia sudah dalam genggaman mereka. Maka, menerapkan norma-norma kepatutan adalah filter yang harus mereka pasang agar tidak terjebak dalam dampak negatif berjejaring sosial,” imbuhnya.

Menurut Bachnas, media jejaring sosial juga bisa digunakan untuk menambah ilmu pengetahuan atau meningkatkan kepedulian sosial. Jika motivasi positif yang mendorong kita menggunakan jejaring sosial, ujarnya, maka hal-hal positif juga yang akan kita dapatkan. Begitu juga sebaliknya.

“Ketika kita menemukan postingan-postingan yang tidak sesuai norma-norma yang berlaku, maka sebaiknya kita jauhi. Lebih baik kita gunakan media itu untuk membagi informasi yang berguna bagi orang-orang di sekeliling kita,” Bachnas menegaskan.

Oleh: Rifa Nadia N

Lihat:

http://kampus.okezone.com/read/2012/01/11/417/555507/filter-itu-bernama-norma

About erwinpunyaku

Salam kenal bagi siapa saja yang mau berkenalan dan bersahabat dengan saya.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Pengunjung

free counters

%d blogger menyukai ini: