//
you're reading...
Intelejensia, Mahasiswa, Penasaran

Sejarah Jalan Moses Gatotkaca di Yogyakarta

Jakarta, (AJINews, 9/10/98): Aksi keprihatinan mahasiswa Indonesia memasuki babak pahit. Keluarga besar civitas mahasiswa Indonesia yang tak pernah berhenti menyerukan reformasi lewat aksi-aksi mereka harus kehilangan salah satu warganya.
Moses Gatotkaca, mahasiswa Fakultas MIPA Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta, diketemukan tewas pada Jumat petang (8/5) di tengah kegentingan menyusul aksi yang berakhir dengan bentrokan di sekitar kampus USD, Mrican-Gejayan, Yogyakarta. Hal ini mengingatkan kita pada nama Arief Rahman Hakim, sosok muda yang tewas dan menjadi saksi perlawanan terhadap arogansi kekuasaan.
Penyebab kematian Moses dipastikan adalah akibat hantaman benda keras dan tumpul. Harian BERNAS Yogyakarta memberitakan, dr. Djatmiko Sudomo dari RS Panti Rapih yang merawat Moses menyatakan bahwa Moses sudah meninggal setibanya di rumah sakit. Hasil pemeriksaan menunjukkan tulang dasar otaknya retak. “Melihat keadaannya dapat saya pastikan dia dipukul sekitar setengah jam yang lalu. Hal ini dibuktikan dengan luka-lukanya. Yang jelas dia meninggal akibat pukulan benda keras, tumpul,” ujar dr Djatmiko seperti dikutip BERNAS.
Bagi Mulyana W. Kusumah, saat dihubungi AJINews, tewasnya mahasiswa ini merupakan bukti bahwa politik kekerasan mengalami eskalasi secara meluas. Bahkan hal ini sudah dilihat oleh KONTRAS sejak 2 Mei. Hal ini terbukti dengan meningkatnya jumlah korban, yang menurut perkiraan KONTRAS sudah mencapai lebih dari 1000 orang, dengan puluhan luka berat. Menurut Koord. Dewan Nasional KONTRAS ini, penggunaan metode konvensional yang digunakan aparat militer dalam menangani aksi-aksi damai mahasiswa, justru memicu langkah yang lebih jauh timbulnya interaksi kekerasan di lapangan.

Menurut sumber AJINews hingga berita ini diturunkan, belum jelas siapa yang telah mencederai Moses hingga tewas. Orang-orang yang menemukakannya lalu membawanya ke RS Panti Rapih menyatakan bahwa Moses kedapatan terkapar di Papringan, Catur Tunggal, Sleman, Yogyakarta sekitar pukul 10.00. Papringan tempat Moses ditemukan tak jauh dari kampus USD yang sejak sore ribuan mahasiswanya terlibat aksi yang terus memanas sejak awal pekan ini. Insiden di Yogya ini sendiri, meletus sekitar pukul 17.00. Hal itu terjadi akibat ratusan petugas keamanan membubarkan secara paksa unjuk rasa yang dilakukan sekelompok massa di depan Hotel Radison yang terletak di pertigaan antara Jl. Gejayan dan Jl. Kolombo. Karena, tak ada yang mau mengalah, ketegangan ini berlangsung hingga malam harinya dan melahirkan insiden berdarah. Di tengah insiden inilah Moses tergeletak di tempat yang tak jauh dari kampus USD.

Baik media massa maupun sumber setempat menyebutkan saat bentrokan berlangsung petugas sempat melakukan pengejaran terhadap massa pelaku aksi hingga memasuki kompleks kampus USD. Demikian juga terhadap aksi yang dilangsungkan di IKIP Negeri Yogya yang berseberangan jalan dengan USD. Diberitakan setelah itu bahwa 7 mahasiswa diamankan dan sejumlah fasilitas kampus rusak saat petugas memasuki kompleks kampus. Dari dompetnya diketemukan identitas KTP dan SIM C atas nama Moses
Gatotakaca. Pemuda kelahiran Banjarmasin ini diketahui tinggal di Gang Brojolamatan No 9A Mrican Yogyakarta. Tempat ini juga tak jauh dari kampus USD dan sama-sama berada di wilayah Jalan Gejayan Yogyakarta. Selain KTP dan SIM C juga ditemukan slip kiriman paket dari pengirim yang beralamatkan Jalan Diponegoro I Singkawang Kalimantan Barat.  PR III USD, G Sukadi didampingi seorang dosen USD, Subekti dan Romo  Broto Wiyono SJ tampak menengok Moses sekitar pukul 00.15 di RS Panti  Rapih untuk menyampaikan rasa duka dan mendoakannya. Ketiganya  mengidentifikasi Moses sebagai mahasiswa USD. “Semoga ini yang terakhir  dan tidak ada korban lagi,” ujar PR III USD. Rencana pemakaman Moses belum  bisa dipastikan.

Secara umum suasana mencekam di sekitar USD seperti di Jalan Kolombo dan Jalan Gejayan masih tampak mencekam hingga pukul 23.00. Kendraan belum dapat melewati jalan-jalan di sini. Menurut sumber AJINews di Yogya, dukungan moral dari masyarakat “Kota Pelajar” ini semakin menguat sejak tewasnya Moses. Hal senada juga ditegaskan oleh Mulyana, sambil meminta mahasiswa terus bertahan dengan aksi-aksi damainya. “Tidak boleh mundur karena peristiwa ini, kembangkanlah komunikasi yang efektif untuk mencegah semakin menjadinya tindak kekerasan”, tandasnya. Mulyana juga menegaskan bahwa KONTRAS memprotes keras dan sangat menyesalkan peristiwa ini. Dan, selasa pagi KONTRAS akan menerima pengaduan dari Yogya dan petangnya akan diadakan do’a keprihatinan di sekretariat KONTRAS: Jl. Diponegoro 74 Jakarta. Semaga kematian Moses menjadi saksi sejarah dan pelajaran bagi kita.

Lihat:

http://www.library.ohiou.edu/indopubs/1998/05/09/0008.html

About erwinpunyaku

Salam kenal bagi siapa saja yang mau berkenalan dan bersahabat dengan saya.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Pengunjung

free counters

%d blogger menyukai ini: