//
you're reading...
Bangkitkan Iman, Intelejensia, Penasaran

Pesan Ilahi “Pentingnya Menjaga Keutuhan NKRI”

Dalam ideologi ajaran yang lurus ini, Allah ta’ala senantiasa menjadikan Syariat sebagai sebuah solusi dan pesan kepada hamba-hambanya yang terbingkai  indah pada salah satu  disiplin ilmuNya yaitu  “Maqosid syariah”, bahwa ibadah itu dibagi menjadi 2:
1. غير معلل (Ghoiru mu’allal) artinya tiada yang mengetahui sebab dijadikannya sebuah syariat kecuali Allah dan bersifat semata-mata karena bentuk dari tunduk ruduk kita sebagai hamba yang fakir kepada-Nya dalam beribadah, contoh :
a. Shalat :
Zuhur, Ashar, Isya  yang bilangannya harus 4 Raka’at, subuh 2 raka’at dan Maghrib 3 raka’at dengan waktu yang sudah di tetapkan.
b. Puasa
Menahan atas sesuatu dari hal-hal yang membatalkannya dengan waktu yang sudah diatur mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari dengan syarat dan niat tertentu.
c. Haji dan umroh
Thawaf mengelilingi Ka’bah sebanyak 7 putaran yang di mulai dari sebelah kanan dan juga wuquf di ‘’Arafah’’ setiap tanggal 9 Zulhijah dengan tempat yang sudah di tentukan batasan-batasan padang arafahnya.
d. Zakat :
Takaran beras (makanan pokok) yang sudah di tentukan yaitu 1 shaa atau 4 amdad, 1 mad nya adalah 4 kali cakupan penuh dua telapak tangan ukuran normal yang digabungkan atau sekitar 2,5 kg beras.
Adapun zakat pada emas dan perak yang jika memenuhi nishab (batas minimal yaitu 85 gr untuk emas dan 595 gr untuk perak) dan telah mencapai haul atau masa 1 tahun hijriyah, zakatnya sebesar 2,5 %.
Tinggal di hitung saja berapa rupiah 1 gram emas dan peraknya, lalu di kalikan 85 gr emas atau 595 gr perak dan setelah itu dibagi 2,5 %.  Dengan sarat yaitu sampai haul dan nishab (emas dan perak murni 24 karat).
pernahkah kita terpikir dan bertanya dalam hati akan  jumlah rakaat di atas yang  harus 4, 3 dan 2  (ada apa dengan bilangan itu???), juga ketentuan waktu dalam puasa (kenapa puasanya tidak di malam hari???),  kenapa  juga harus berputar 7 putaran (tidak kurang dan lebih) dan di mulai dari kanan, serta wukuf di arafah (kenapa tidak di tempat lain??), dan takaran serta ketetapan pada zakat (lalu bagaimana dengan kiloan dan persenan yang sudah diterapkan???)
Jawabannya adalah karena Rasulullah dan para sahabatnya melakukan dan mencontohkannya sebagai wujud dari ketaatan murni kepada Allah, lalu adakah yang tahu kenapa mereka melakukan ritual ibadah yang bilangan dan teorinya sudah dipatenkan??? Adakah yang tahu???
Adakah Rasulullah dan para sahabatnya menjelaskan secara detail akan hal-hal yang mereka lakukan??? (Inilah yang dimaksud  dengan ibadah Ghoiru mu’allal dan masih banyak lagi contoh ibadah lainnya).
2. معلل (Mu’allal) artinya tatkala diperintahkannya suatu ibadah tertentu karena adanya alasan logis dan kita jualah yang merasakan manfaatnya, contoh:
a. حفظ الدين / Hifdzu ad diin (Proteksi pada Agama)
Berjuang di Jalan Allah, mengajak kepada yang ma’ruf dan menolak kemungkaran merupakan bagian dari proteksi pada agama, alasannya diperintahkan ibadah tersebut jelas agar Agama ini tetap terjaga kesakralannya.
b. حفظ النفس / Hifdzu an nafs (Proteksi pada jiwa/diri)
Makan dan minum yang halal lagi baik, tidak merusak lingkungan dan juga tidak merugikan diri sendiri seperti merokok, sering begadang tanpa tujuan, pola hidup tidak teratur dan pergaulan bebas ala hedonis.
Alasannya jelas makan dan minum untuk bertahan hidup sehingga diri ini tetap terjaga sedangkan merokok, begadang tanpa tujuan jelas dapat mengganggu kesehatan hingga bisa menyebabkan kematian adapun pergaulan bebas bisa menjerumuskan diri kepada banyak penyakit.
c. حفظ النسل / Hifdzu an nasal (menjaga regenerasi)
Menikah, tujuannya jelas bukan hanya bentuk cinta, tapi juga untuk menjaga keturunan agar tetap utuh, adapun tradisi bangsa Arab mereka menikahkan putra putrinya untuk memperkuat jaringan yang sebelumnya pernah dibangun sehingga semakin kental persaudaraan di antara kedua belah pihak.
Adapun konteks kekinian di tanah air bisa kita temukan pada dunia pendidikan, politik, relasi bisnis dan lain-lain, contoh: pernikahan antara dua keluarga pendiri pesantren atau yayasan, antara para kader politik praktis maupun simpatisan juga pada relasi bisnis, tujuannya tiada lain yaitu mengokohkan visi dan misi yang sama.
d. حفظ المال / Hifdzu al mal (Proteksi pada Materi)
Jual beli atau perniagaan yang bebas dari riba, alasannya jelas yaitu agar roda kehidupan tetap berputar dan mengokohkan pondasi ekonomi mulai dari unit terkecil (keluarga) hingga Negara.
e. حفظ العقل / Hifdzu al aql (Proteksi akal dan pikiran)
Haus akan kajian seperti membaca artikel artikel ringan maupun berat di pelbagai kajian media online berbasis komunitas, tidak meminum yang memabukan, menjauhi Narkoba, membaca Qur’an dan lain lain.
Alasannya jelas yaitu menjaga akal dan pikiran agar tetap sehat serta memberikan nutrisi pada otak khususnya bagian kanan sehingga memberikan pengaruh positif pada pola hidup seorang muslim dalam kesehariannya.
Penjelasan singkat di atas merupakan bagian dari materi maqosid syariah yang merupakan cabang dari Ilmu Usul Fiqih dan telah menjadi ilmu mandiri dalam kaidah serta metode-metode yang sangat di rekomendasikan untuk dipelajari para penuntut ilmu.
Ilmu Maqosid merupakan ilmu yang mulai popular di abad ke-4 Hijriyah, di antara para cendikiawan muslim yang berkutat pada bidang ini, di antaranya:
a. Al Juwaini (wafat 478 H)
b. Al Ghozali (wafat 505 H)
c. Al ‘Izzu bin abdussalam (wafat 660 H)
d. Asy syatibi dengan kitabnya yang fenomenal “Al muwafaqat” (wafat 790 H)
e. Dan di era terkini Muhammad At Tohir bin ‘Asyur (wafat 1379 H)
Begitu juga seorang Muslim penting menjaga NKRI, alasannya sangat jelas yaitu mencari ridha Allah semata untuk menjadi pribadi muslim yang handal lagi tangguh di tengah sahara kehidupan dan di zaman yang serba instan.
NKRI esensi dari Pesan Ilahi
NKRI sendiri masuk dalam kategori معلل (Mu’allal) karena mempunyai pesan yang gurih hingga bisa dinikmati oleh siapa saja yang benar-benar menjaganya. Berikut penjelasan NKRI yang saya definisikan sebagai pesan Ilahi:
1. “N” Networking.
Betapa pentingnya bagi setiap insan agamis nan dinamis untuk membangun dan memperkuat jaringan serta melebarkan sayap untuk kemaslahatan diri, keluarga, sanak saudara, masyarakat dan umat, salah satu bagian dari networking itu adalah “Hobi Silaturahim”.
Dalam hadits sendiri sudah dijelaskan:
عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : “من أحبَّ أن يُبسط له في رزقه، ويُنسأ له في أثَره، فليَصِلْ رحمه” متفق عليه
“Siapa yang menginginkan rizkinya dilapangkan, dan umurnya dipanjangkan, maka lakukanlah silaturahim”. [1]
Networking adalah salah satu konteks dari hadits di atas, dan alasannya jelas yaitu jika kita ingin mendapat keuntungan dan panjang umur, maka kuasailah makna membangun jaringan yang hakiki untuk melihat dunia lebih dekat.
Membangun jaringan juga merupakan sejati atau sebenar-benarnya ketaatan kita kepada orang tua sesuai dengan isarat hadis :
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَبَرُّ الْبِرَّ أَنْ يَصِلَ الرَّجُلُ وُدَّ أَبِيْهِ
Dari ibnu Umar ra, Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik perbuatan baik terhadap orang tua adalah menyambung persaudaraan terhadap orang-orang yang dicintai orang tuanya.” [2]
2. “K” Kompetitif.
Bersaing di sini tentunya dalam kebaikan, bagi setiap insan hendaknya bersiap-siap bertempur di arena pertarungan untuk kehidupan yang lebih baik di dunia dan akhirat.
Di dalam Al Qur’an di sebutkan:
… فَاسْتَبِقُواْ الْخَيْرَاتِ أَيْنَ مَا تَكُونُواْ يَأْتِ بِكُمُ اللّهُ جَمِيعاً إِنَّ اللّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ…
:Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS: Al Baqarah ayat 148 juz 2)
Oleh karenanya penting bagi kita untuk sigap bersaing dan mempunyai kemampuan membangun (Character building) dalam bidang masing-masing di era global ini.
3. “R” Rasional
Di Masa Rasulullah pernah ada sebuah kisah dan inilah salah satu bentuk maqosid syariah di zaman nabi hanya saja baru sebatas kasus yang belum dijadikan ilmu yang independen atau diktat-diktat kampus kecuali setelah wafatnya Rasulullah dalam waktu beberapa kurun pada sekitar abad ke-4 Hijriyah.
Sama halnya penggunaan bahasa Arab yang begitu rapih dan terjaga oleh Rasulullah dan para sahabatnya pada pola literatur mereka dan ketika itu belum ada ilmu nahwu dan Shorof seperti di zaman sekarang dan masih banyak lagi kecanggihan teori maupun praktek di zaman rasul sebagai ciri dari Masyarakat madani ‘’Civil society”.(Wajar saja mereka bisa mencerna Al Quran dengan baik karena kefasihannya berbahasa arab ditambah akal sehat dan hati nurani yang senantiasa  berfungsi sebagai driver mereka sehingga banyak Al-Quran berjalan di muka bumi kala itu). Masya Allah….
Dikisahkan ada seseorang yang sedang melakukan perjalanan jauh dengan menggunakan unta, lalu diikatlah tunggangannya oleh sang musafir di salah satu penyangga sambil pergi untuk menunaikan shalat.
Di tengah shalat unta itu lepas dan secara langsung sang musafir membatalkan shalat sambil mengejar untanya yang lepas dari ikatan, berkatalah rekannya setelah itu “kenapa kamu meninggalkan shalat dan lebih mengutamakan untuk mengejar untamu, “saya hanya mengikuti metode Rasulullah yang tidak suka menyulitkan diri dan senang terhadap kemudahan” begitu jawab sang musafir. [3]
Inilah yang di maksud dengan Maqosid Syariah, di satu sisi dia telah membatalkan shalatnya hanya karena mengejar untanya, di sisi lain dia berpikir cerdas karena dengan mendapat untanya kembali dia bisa melanjutkan perjalanan yang masih jauh. Otomatis pesan-pesan maqosid pun terjaga di antaranya:
1.    Menjaga akal dan pikiran (Tidak menjadi bebannya)
2.    Menjaga materi (Tidak kehilangan Tunggangannya)
3.    Menjaga agama (bisa meneruskan shalatnya setelah mendapat unta)
4.    Dan yang terpenting menjaga jiwa dan dirinya (terbebas dari keterlantaran di tengah jalan).
الدِّينُ يُسْرٌ أَحَبُّ الدِّينِ إِلَى اللهِ الْحَنِيفِيَّةُ السَّمْحَةُ.
Artinya: “Agama itu mudah; agama yang disenangi Allah yang benar lagi mudah.” [4]
يَسِّرُوا وَلاَ تُعَسِّرُوا ……
Artinya: “Mudahkanlah dan jangan mempersukar …” [5]
….وما جعل عليكم في الدين من حرج….
“…dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan…” (QS: Al Hajj ayat 78 juz 17).
Di tambahkan dari surat At Taghaabun ayat 16 juz 28:
فاتقوا الله ما استطعنم…
Maka bertaqwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu…
Kemudahan demi kemudahan dalam ajaran Islam jelas sangat di anjurkan, pilihlah yang termudah dari yang mudah, karena Rasulullah pun senang melakukannya dengan satu sarat yaitu kemudahan tersebut bukan pada hal yang berbau maksiat yang jelas menimbulkan dosa, contoh :
a. Shalatnya musafir, ada 2 ospi kemudahan yang ditawarkan oleh Islam kepada kita disaat bepergian jauh, opsi pertama kita bisa menggabungkan shalat (Zuhur dan Ashar tetap 4 rakaat “4 & 4″ dalam waktu bersamaan).
opsi kedua menggabung dan meringkasnya (Zuhur dan Ashar diringkas menjadi 2 rakaat “2 & 2″ dalam waktu bersamaan). Opsi manakah yang anda pilih ??? (silahkan pilih yang termudah)
b. Disaat kesulitan mengakses ilmu agama via belajar langsung ke timur tengah atau perguruan tinggi terkenal dibidangnya, kita tidak perlu kawatir karena ada opsi lain yang bisa menjadikan kita mengerti akan ilmu agama secara utuh.
yaitu dengan mendatangi majelis-majelis ilmu yang dihiasi ustadz atau ustadzah yang keilmuannya tidak diragukan dan fakar di bidangnya, banyaklah bertanya kepada mereka dengan demikian kita tidak perlu jauh-jauh pergi ke timur tengah bahkan repot-repot melahap dan menghatamkan banyak kitab klasik maupun kontemporer.
4. “I”  Intelektualitas dan Integritas
ولا تقف ما ليس لك به علم إن السمع والبصر والفؤاد كل أولئك كان عنه مسئولا
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS: Al Israa’ ayat 36 juz 15)
Inilah pesan Ilahi yang sesungguhnya, penting bagi setiap personal memahami makna “I” di atas, karena dengan pijakan keilmuan yang mendasar akan menjaganya dari kecerobohan intelektual.
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ….
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran…” (QS: Al Maa’idah ayat 2 juz 6)
Akhirnya ini bisa menjadi saat yang menentukan “Turning point” dalam totalitas Suatu keadaan yang mempunyai pengaruh besar (Great influence) jika kita berjalan di atas garis pasir pantai yang sama dengan segala kemampuan dan potensi yang di miliki karena rasa cinta kepada tanah air tanpa mengurangi elektabilitas suatu kesatuan yang utuh dan buahnya adalah terpancarnya kewibawaan dan kejujuran pada ibu pertiwi tercinta. Semoga…

Catatan ringan ini merupakan intisari dari obrolan santai sore hari bersama sahabat saya dari Mauritania (negeri dengan segudang penyair dan penghafal Qur’an) di sebuah kafe sederhana di sudut kota Fes-Maroko.
Catatan kaki:
[1] Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.
[2] Diriwayatkan oleh Muslim
[3] Dipetik dari karya Muhammad At Tohir bin ‘Aasyuur (Maqosid syariah)
[4] HR. al-Bukhari dari Abu Hurairah RA.
[5] HR. al-Bukhari dari Anas ibn Malik RA.

Oleh: Guntara Nugraha Adiana Poetra, Lc.

Lihat di: http://www.dakwatuna.com/2012/03/18684/pesan-ilahi-pentingnya-menjaga-keutuhan-nkri/

About erwinpunyaku

Salam kenal bagi siapa saja yang mau berkenalan dan bersahabat dengan saya.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Pengunjung

free counters

%d blogger menyukai ini: