//
you're reading...
Pengalaman

Serupa tapi tak sama

Aku merasa asing di kampus ini…

Menjadi martyr adalah keinginanku, saat diri ini bisa melindungi orang lain, berkorban demi mereka, hal itu yang membuatku bahagia. Akantetapi, keinginan itu isapan jempol semata bila tak kunjung kuawali. Saat ini aku merasa terlalu pengecut untuk mau mengawalinya setelah tahu kondisi lingkungan sosial tempat aku berada. Rasa malas menjadi penyakit yang tak kunjung sembuh. Itu ada sebabnya.

Segala-galanya tidak akan ada tanpa usaha. Begitulah yang tergambar dari alam semesta ini. Manusia telah mengalami masa-masa suram dengan ketidaktahuan mereka akan hakikat hidupnya. Maka kemudian datang utusan dari Sang Pencipta, terdiri dari mereka yaitu Nabi dan Rasul yang menjadi rahmat bagi seluruh alam. Manusia diajari untuk mengenal Penciptanya itulah Islam, menjadi ajaran Universal yang diajarkan secara sempurna oleh Rasulullah, Muhammad SAW. Kini Islam menjadi ajaran yang bercabang dengan banyak versi.

“Islam versi mana kampus ini?” Pikirku, saat aku mulai jengkel melihat hiruk pikuk dakwah di kampusku ini. Aku merasa asing. Aku melihat Islam yang berbeda antara kampus ini dengan kultur latar belakangku, apa lagi bayangan di pikiranku.  Bukan masalah madzab, sudah jelas di Indonesia umumnya bermadzab Syafii. Namun, masalah … (yah, rada susah ngisinya). Sepengetahuanku, di kampus gak ada Yasinan bareng (Kcuali Kopma), Istighatsah, Bermain Rebana/ Qasidahan, majelis dzikir bersama, peringatan maulid Nabi Muhammad SAW, dsb. Alasannya tidak jelas. ()

Yang pernah aku ikuti di kampus adalah khataman, kajian rutin, daurah, halaqah,dll.. rasanya masih kurang memenuhi rasa “dahagaku” belajar Islam untuk mengenal Sang Pencipta. (Kering rasanya). Aku mulai mengobati rasa penasaranku dengan mencari informasi perihal masalah-masalah itu. Ternyata banyak yang berpikiran sama denganku. Ada mereka yang merasa tidak terfasilitasi kompetensinya di kampus. “Kulturnya beda” , mereka enggan muncul karena ada kelompok mayoritas yang menganut ideologi tertentu yang berbeda. Ada yang menyebut wahabi, salafi, mu’tazilah, muhammadiyah, apapun itu.

Memang samar terlihat, tapi perbedaan itu sangat terasa. Padahal Islam adalah ajaran yang sempurna. Kenapa ada blok-blok tertentu yang tidak bisa berbaur dengan lainnya? Akhirnya, orang sepertiku memilih keluar kampus untuk mencari kesamaan (dalam arti positif).

About erwinpunyaku

Salam kenal bagi siapa saja yang mau berkenalan dan bersahabat dengan saya.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Pengunjung

free counters

%d blogger menyukai ini: