//
you're reading...
Intelejensia, Penasaran, Pengalaman

9 Langkah Meretas Negara Berdaulat

Oleh: R. Masanto

Negara kaya ternak tidak akan pernah menjadi negara miskin.
Negara miskin ternak tidak akan pernah menjadi negara kaya.
–Pepatah Arab

Sebelum menguraikan “9 Langkah Meretas Negara Berdaulat”, saya akan mendefinisikan negara, kaya, dan miskin terlebih dahulu.

Negara (state) adalah sebuah wilayah di bumi yang didiami oleh sejumlah penduduk yang beberapa penduduknya menjadi pejabat negara, baik dipilih maupun ditunjuk untuk menjalankan pemerintahan secara efektif dan efisien sehingga penduduk (masyarakat) merasakan adanya keamanan dan terpenuhinya kebutuhan dasar hidup, seperti pangan, sandang, dan papan. Keberadaan negara diakui oleh dunia internasional dengan absah setelah bergabung dengan United Nations (PBB), sebagai “pemimpin dunia”.

Kaya adalah suatu kondisi tercukupinya pangan, sandang, dan papan. Sedangkan miskin adalah kebalikan dari kaya, yaitu suatu kondisi tidak tercukupinya pangan, sandang, dan papan. Namun demikian, miskin adalah sebuah keniscayaan sebagaimana kaya pun sebuah keniscayaan. Ada orang kaya, maka pasti ada orang miskin. Orang atau kondisi disebut kaya apabila ada orang atau ada kondisi miskin di sisi yang lain. Orang atau kondisi disebut miskin apabila ada orang atau kondisi kaya di sisi yang lain. Mudahnya, si A memiliki uang Rp1 miliar, sedangkan si B memiliki uang kurang dari Rp1 miliar maka saya menyebutnya si A adalah orang yang lebih kaya daripada si A dan si B adalah orang yang lebih miskin dari pada si A. Meskipun uang Rp1 miliar tidak dapat sebagai patokan kaya dan miskin, karena bisa saja pemilik Rp1 miliar itu masih merasa miskin, sedangkan orang yang memiliki uang kurang dari Rp1 miliar, bahkan Rp1 juta sudah merasa kaya.

Kaya dan miskin itu relatif. Definisi tersebut untuk menyempitkan sekaligus sebagai salah satu makna kaya dan miskin, karena apabila ditinjau dari sudut pandang yang lain, misalnya religius, maka kaya dan miskin akan berbeda maknanya dengan ilustrasi saya di atas.

Sebelum pada pembahasan “9 Langkah Meretas Negara Berdaulat”, saya ingin mengutarakan maksud saya mengambil judul “9 Langkah Meretas Negara Berdaulat”.

Selepas kedaulatan Sriwijaya dan Majapahit runtuh hingga terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada 17 Agustus 1945 (17-08-1945), bahkan kedaulatan Mataram yang “tersisa” hanya di Yogyakarta: Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Paku Alam dan Surakarta: Kasultanan Surakarta Hadiningrat dan Susuhunan Mangkunegara. Dengan besar hati Raja Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat Sri Sultan Hamengku Buwono IX memilih menjadi bagian dari NKRI ketimbang “mangadeg” menjadi negara sendiri, situasi dan kondisi NKRI hingga detik masih belum stabil. Ibarat “anak muda”, memang negara ini baru akan berumur 66 tahun. Bandingkan dengan negara adidaya Amerika Serikat yang sudah berumur lebih dari 200 tahun sehingga kita dapat melihat betapa hebat dan kuasanya United State of Amerika hingga detik ini di panggung dunia (jagad raya).

Pun kehebatan dan kekuasaan Sriwijaya dan Majapahit, dua kerajaan terbesar di Nusantara-Indonesia Raya berjaya masing-masing selama tidak kurang dari 5 dan 3 abad. Barangkali kedua kerajaan tersebut merupakan adidaya di jamannya. Kita tentu membaca sejarah bahwa kekuasaan Kerajaan Majapahit yang berpusat di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur itu hingga ke Madagaskar yang apabila dipetakan maka sebesar Asia Tenggara. Sementara kekuasaan Kerajaan Sriwijaya yang berpusat di sekitar sungai Musi, tepatnya di Palembang, Sumatera Selatan lebih sempit dari pada Majapahit, mungkin seluas negara Indonesia sekarang. Sedangkan kekuasaan Kerajaan Mataram yang sempat berpindah-pindah ibu kotanya berada di daratan, seperti di Kota Gede, Yogyakarta dan Kartasura, Jawa Tengah  lebih sempit lagi dari pada NKRI.

Kelabilan situasi dan kondisi NKRI memang sejak awal kelahirannya yang terbawa hingga sekarang. Pada awalnya pendiri negara ngotot-ngototan antara menjadi negara agama (Islam) maupun negara nasionalis (bangsa), hingga founding fathers kita menetapkan memilih sebagai negara Pancasila yang merupakan kompromi atas kedua kekuatan di atas. Pun negara Pancasila sangat kentara diliputi semangat agama (Islam), tetapi pada praktiknya tidak bisa dilepaskan dari akar budaya Nusantara yang berkiblat pada tiga kekuatan besar: Sriwijaya, Majapahit, dan Mataram sehingga sampai detik ini kita mampu melihatnya meskipun NKRI ditasbihkan sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia. Kelabilan poolitik, sosial budaya, ekonomi, dan lain-lain (multidimensional) berturut-turut setelah 1945 adalah pasca 1965, kemudian berlanjut hingga Reformasi 1998 dan sampai dengan detik ini.

Kini saatnya pada topik “9 Langkah Meretas Negara Berdaulat”. Dalam kesempatan ini, saya hanya mengambil salah satu sektor kelabilan situasi dan kondisi NKRI, yaitu sektor peternakan, lebih khusus lagi tentang sapi. Pepatah Arab tersebut sangat tepat untuk menggambarkan kondisi sebuah negara, tidak terkecuali NKRI. Orang Jawa bilang bahwa ternak itu rojo koyo. Dari pemilihan istilah saja sudah menunjukkan bahwa bangsa kita sudah paham bahwa ternak itulah rojo (raja, king) dan koyo (kaya, rich) lagi. Lihat saja negara-negara kaya, seperti Amerika Serikat maka menjadi raja alias penguasa/adikuasa dunia yang menempatkan mainstream bisnisnya pada bidang peternakan (dan pertanian).

Dari perbincangan secara face2face dan saat seminar-diskusi di sebuah forum terbuka dengan guru-guru saya di Fakultas Peternakan UGM, terutama Prof. Dr. Ir. Ali Agus, DAA., DEA. dan Prof. Dr. Ir. Ismaya, MSc. setidaknya diperlukan 9 poin krusial yang saya sebut “9 Langkah Meretas Negara Berdaulat”, inilah jati diri (dignity/integritas) kita, yaitu:

1) Kita merupakan negara-bangsa (nation-state) Indonesia yang ditasbihkan sebagai negara kepulauan terluas di dunia dengan jumlah pulau 17.508, bahkan menurut citra satelit terbaru, jumlah pulau NKRI ada 18.108 pulau. Kekayaan pulau (daratan) dan lautan tersebut berupa bahan tambang, pertanian, perikanan, dan lain-lain. Panjang garis pantai kita 81.000 Km merupakan yang terpanjang di dunia. Inilah yang menasbihkan kita sebagai negeri maritim (77%) dari total luas NKRI 9,1 juta Km persegi. Dalam sejarah disebutkan, masa keemasan Sriwijaya dan Majapahit ditopang oleh kebesaran maritim (armada kapal laut). Namun sejak keruntuhan Majapahit, diteruskan oleh Demak Bintoro dan Pajang, kemudian Kerajaan Mataram beralih ke pedalaman, inilah yang menjadikan kita menjadi negeri agraris/kontinental (daratan) hingga detik ini.

2) Kita merupakan negara ring of fire, salah satu pemilik gunung api aktif terbanyak di dunia, inilah yang membuat negeri kita subur, terutama pulau Jawa. Oleh sebagian orang, Jawa dipercaya sebagai tamansari dunia, karena kekayaan alam yang terhampar dan dikandungnya.

3) Kita merupakan negara megabiodiversity kedua setelah Brazil. Inilah anugerah Tuhan Yang Maha Esa yang pantas kita terima dengan penuh amanah.

4) Kita merupakan negeri berpenduduk keempat terbanyak di dunia, setelah China, India, dan USA. Inilah fakta yang tidak dapat kita tolak, inilah sebuah amanah Tuhan Yang Maha Esa untuk mampu menghidupi lebih dari 230 juta jiwa secara layak, bahkan mampu terwujudnya masyarakat sebagai tertuang dalam butir-butir Pancasila: 1) Ketuhanan Yang Maha Esa, 2) Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, 3) Persatuan Indonesia, 4) Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, 5) Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

5) Kita merupakan negeri berpenduduk Muslim terbesar di dunia. Penganut agama Islam (Muslim) sekitar 90% dari jumlah penduduk merupakan orang-orang yang baik, mengedepankan akhlak yang terpuji, bahkan manusia adalah wakil (khalifah) Tuhan di bumi yang merupakan rahmat bagi seluruh alam.

6) Jalin, perkuat, rapatkan barisan untuk komitmen bersama membangun negara-bangsa Indonesia. Jangan saling terpecah belah, jangan saling berseteru, saatnya melangkah bersama meskipun ada perbedaan agama, ras, suku, dan golongan. Keberagaman itulah yang oleh bangsa Nusantara-Indonesia Raya disebut Bhinneka Tunggal Ika yang tersematkan pada kaki burung simbol kebesaran negara-bangsa Garuda Pancasila. Dengan falsafah Bhinneka Tunggal Ika maka meretas negara berkedaulatan yang kekayaan melimpah, adil, makmur, dan damai: gemah ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharja dapat terwujud. Bhinneka Tunggal Ika merupakan kekayaan local indigineous kita, meskipun Islam menjadi agama mayoritas, tetapi bangsa ini memiliki toleransi dan karakter guyub rukun dengan penganut agama yang lain: Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Konghucu, dan aliran kepercayaan. Fakta inilah yang menguatkan jati diri kita sebagai bangsa yang toleran, memiliki karakter multikulturalisme dan pluralisme, hidup damai bersama-sama dalam rumah Indonesia dimana yang mayoritas tidak menindas yang minoritas dan yang minoritas tidak minder pada yang mayoritas. Kerukunan antarumat dan intern umat beragama inilah yang menjadi kekaguman sekaligus dicontoh bangsa-bangsa di dunia.

7) Mulailah berpikir sistem/integrasi. Kehidupan berbangsa dan bernegara serta bermasyarakat merupakan suatu jalinan yang saling terkait, satu sendi/sektor kehidupan dengan sendi/sektor kehidupan yang lain saling terjalin, ada titik temu, ada benang merah yang menyatukan kita. Sektor pertanian tidak mungkin berhasil tanpa sektor peternakan dan sektor kehidupan yang lain. Begitu juga sebaliknya, sektor kehidupan yang lain, misal (kestabilan) politik tidak mungkin berhasil tanpa sektor pertanian-peternakan-perikanan. Mix farming atau integrated farming itulah jargon kita yang merupakan warisan kearifan lokal kakek-nenek moyang kita. Ilmu tersebut sangat dikagumi oleh bangsa-bangsa di dunia. Ingat dalam kata Indonesia ada tiga huruf yang sangat baik dan bagus sebagai tujuan bersama, yakni one (1). Saatnya kita bersatu, saatnya fraksi dan friksi yang saling bertentangan dihilangkan, saatnya sekat-sekat perbedaan dihilangkan kemudian diolah-dimanage dengan sebaik mungkin agar lahir dan muncul hal-hal yang terbaik guna merajut negara-bangsa yang adil dan makmur: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

8) Kita memerlukan leader (pemimpin) negarawan yang mampu berdiri pada setiap agama, ras, suku, dan golongan untuk kepentingan jangka panjang, karena negara-bangsa ini harus dipertahankan sepanjang masa. Pemimpin yang negarawan adalah pemimpin yang sebagaimana diutarakan oleh Ki Hadjar Dewantara: 1) Ing Ngarso sung Tulodho, 2) Ing Madyo Mangun Karso, 3) Tut Wuri Handayani. Sriwijaya dan Majapahit menjadi kaca benggala agar kita tidak terperosok mengikuti jejak dua kerajaan tersebut: keruntuhan. Kepentingan pribadi dan kepentingan sesaat tidak mendapatkan tempat di negara-bangsa ini. Apa yang kita lakukan adalah untuk kemakmuran dan kedamaian/keamanan masyarakat di seluruh penjuru Indonesia.

Menurut data BPS (2011, sementara) populasi sapi sekitar 14 juta. Langkah swasembada daging 2014 mampu terwujud apabila: 1) 8 Langkah tersebut diimplementasikan dengan sebenar-benarnya, 2) Aplikasi Good Management Practices semua stake holder persapian nasional, mulai dari pemerintah, pengusaha (domestik, mancanegara), masyarakat (perguruan tinggi, konsumen), yang meliputi: a) Hentikan pemotongan betina produktif sekaligus pemerintah memberikan insentif untuk pemeliharaannya,  b) Manajemen tata niaga sapi, penimbangan ternak hidup,  tidak lagi memakai sistem taksiran berat hidup, karena itu cenderung merugikan peternak, c) Hentikan impor sapi dan daging sapi secara berangsur sekaligus pemerintah mendorong pemenuhan kebutuhan daging sapi dan sapi hidup dari dalam negeri sehingga peternak domestik bergairah untuk beternak, karena sumber daya alam dan sumber daya manusia kita mampu untuk memenuhi kebutuhan akan protein hewani tersebut, 3) Law enforcement atau penegakkan hukum dengan tegas dan tepat, tidak tebang pilih, dan memenuhi rasa keadilan seluruh stake holder persapian nasional, termasuk peternak. GMP yang baik sudah pasti menelurkan hukum yang baik bagi seluruh pemangku kepentingan: negara dan bangsa Indonesia, tanpa kecuali.

9) Ingatlah 3M: Mulai dari diri sendiri, Mulai dari hal-hal kecil, Mulai sekarang juga! (Aa Gym).

Dengan 9 langkah tersebut, bisa jadi cita-cita menjadi negara berdaulat menjadi bukan lagi mustahil, tetapi keniscayaan. Saatnya dunia (negara) berkeadilan, berkemakmuran, dan berkedamaian dengan kepemimpinan negara-bangsa yang berakhlak mulia, amanah, bertanggung jawab, berlaku adil, dan senantiasa beribadah kepada Tuhan semesta alam. Mari kita tebarkan salam dan cinta kepada seluruh umat manusia dan makhluk Tuhan yang lain di bumi dan jagad raya. Seperti dikatakan Gede Prama: ada satu persamaan pada setiap umat beragama, bahkan ateis sekalipun, yakni adanya harapan berupa kedamaian. Mahatma Gandhi berkata: seisi Bumi tidak cukup untuk seorang yang serakah.

We Love Universe, We Love Earth. We Love Indonesia.

Taken from: http://agro-online.blogspot.com

About erwinpunyaku

Salam kenal bagi siapa saja yang mau berkenalan dan bersahabat dengan saya.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Pengunjung

free counters

%d blogger menyukai ini: