//
you're reading...
Materi Kuliah

Dari Kontinental ke Maritim

Dalam rangkaian 30 Tahun Lembaga Pendidikan Doktor UGM dan Reuni Akbar Sekolah Pascasarjana UGM di Gedung Lengkung UGM, Yogyakarta (23/9/2011), Menteri Perikanan dan Kelautan Dr. Ir. Fadel Muhammad menjadi pembicara kunci dengan pidatonya berjudul “Bangsa yang Alpa pada Sejarah: Tragedi Keturunan Bangsa Bahari yang Kini Berorientasi Daratan”

“Para pelaut Nusantara telah menaklukkan samudera jauh sebelum bangsa Eropa, Arab, Cina, dan India memulai zaman penjelajahan bahari sampai sekarang masih bisa ditelusuri buktinya,” ungkap alumnus doktoral UGM ini. Kerajaan Sriwijaya adalah kelompok pertama pelaut Nusantara yang berhasil menyebarkan armadanya hingga daratan Afrika. Sriwijaya menjadi pengendali jalur perdagangan antara India dan Tiongkok, yakni penguasaan atas Selat Malaka dan Selat Sunda.

“Majapahit merupakan imperium maritim terkuat di Asia pada abad XIII sampai awal XV. Majapahit merupakan negara agraris dan sekaligus negara perdagangan yang mensinergikan kekuatan armada laut dan kemampuan ketahanan pangan. Komoditas ekspor unggulan Majapahit adalah beras, garam, lada, dan kain. Ini menunjukkan bahwa Majapahit menguasai state of the art perdagangan internasional,” tegas mantan Gubernur Gorontalo ini.

Fadel mengatakan, Deklarasi Djuanda pada 13 Desember 1957 membangkitkan kembali jiwa bahari yang sebenarnya sudah didengungkan oleh Muhammad Yamin pada sidang BPUPKI 31 Mei 1945. Oleh karena itu 13 Desember ditetapkan sebagai Hari Nusantara. Bahkan pada awal Oktober 2011 akan diresmikan Institut Kemaritiman Nusantara, di Karawang, Jawa Barat.

Selain FM, hadir pula Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Dr. Sugiharto, SE., MBA. yang mengetengahkan makalah berjudul “Peran BUMN dalam Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI 2011-2025)” dan Dr. Zaenal Soedjais yang membawakan makalah berjudul “Peran Daerah dalam Menggerakkan Ketahanan Pangan dan Peningkatan Nilai Tambah Pertanian”.

Seperti yang dimuat di (http://infokito.wordpress.com)

Saat Kompas bersama arkeolog dari Balai Arkeologi Palembang, Retno Purwanti, melakukan penelusuran, beberapa situs yang menjadi bukti keberadaan kerajaan yang tumbuh di Sumatera pada abad ke 7 tersebut sudah tak dapat ditemukan karena tertutup permukiman penduduk. Jalan menuju ke bekas situs pun sudah tak dapat dikenali.
Misalnya, saat mencari situs Kolam Pinisi, tempat ditemukannya sisa perahu dari abad ke-7, lokasi tersebut sudah tidak berhasil ditemukan. Bahkan, warga di Kelurahan Bukit Lama, Kecamatan Ilir Barat II, tidak menyadari kalau di perumahan mereka terdapat situs yang berkaitan dengan Kerajaan Sriwijaya.
Di wilayah yang sama, situs Kambang Purun, tempat ditemukan Prasasti Siddhayatra dan beberapa fragmen/kepingan prasasti lain juga tak bisa ditemukan. Demikian juga situs Kambang Unglen yang diperkirakan merupakan pusat industri manik-manik untuk melengkapi kegiatan ziarah pada zaman Kerajaan Sriwijaya. Situs itu tidak dapat dijangkau karena lokasinya tertutup pagar rumah penduduk.
Situs Candi Angsoka di Kelurahan 20 Ilir, Kecamatan Ilir Timur I, juga mulai terkepung rumah-rumah semi permanen sehingga benda-benda bersejarah di lokasi tersebut, antara lain batu yoni ukuran 112 x 130 x 130 cm sebagai bagian dari bangunan candi yang belum selesai, terancam rusak. Batu itu diperkirakan berkaitan dengan kegiatan agama Hindu di abad ke-10 Masehi.
Sementara itu arca Bodhisattwa Awalokiteswara dari abad ke 8 dari situs Sarangwaty di Jalan Pendawa, Palembang, digunakan sebagai penghias kolam rumah penduduk.
Sesuai informasi dari buku Situs-situs Masa Klasik di Wilayah Palembang terbitan Pemerintah Daerah Tingkat I Provinsi Sumatera Selatan Tahun 1994, ada 17 situs peninggalan Sriwijaya di Kota Palembang.
Retno Purwanti mengatakan, hilangnya situs-situs bersejarah tersebut menghilangkan peluang untuk menemukan informasi lebih banyak mengenai kegiatan Kerajaan Sriwijaya di Palembang. Menurut dia, para arkeolog baru melakukan penggalian hingga beberapa meter sehingga sebenarnya potensi untuk mendapatkan informasi masih sangat besar.
Menurut Retno, jika situs-situs ini terus digali dan dijaga, bisa menjadi informasi yang sangat berharga. Selain itu, dapat dijual sebagai objek wisata karena merupakan salah satu legenda kebudayaan Melayu. (BOY/kompas).

Sumber: http://agro-online.blogspot.com

About erwinpunyaku

Salam kenal bagi siapa saja yang mau berkenalan dan bersahabat dengan saya.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Pengunjung

free counters

%d blogger menyukai ini: