//
you're reading...
Bangkitkan Iman, Intelejensia, Penasaran

Nasihat Cak Nun: Surga Bukan Tujuan Utama

Saya mengingatkan apa yang pernah kita bicarakan disini bahwa surga itu bukan puncak pencapaian orang yang berbuat baik. Manusia lebih tinggi dari surga karena ahsanutaqwim masterpiecenya Allah itu manusia. Jadi, tidak mungkin manusia mengejar-ngejar sesuatu yang sebenarnya tidak lebih tinggi dari dia. Jadi, anda ini orang Indonesia ini masih tingkat pertama yaitu orang yang rajin beribadah, suka umroh, apalagi yang korupsi.

Zawawi Imron dari madura mengatakan bahwa sangat sukar menemukan koruptor yang tidak naik haji. Meskipun tidak dibalik, sangat sukar menemukan haji yang tidak korupsi. Jadi orang yang masuk surga yang pertama adalah orang yang rajin beribadah, tapi itu surganya di kelas ekonomi dek kapal bagian bawah. Kalau anda mau naik tingkat di kelas VIP, anda menjadi orang yang rajin dan selalu melakukan apa saja baik dalam beribadah maupun dalam bekerja  senantiasa mencari ilmu, maka anda akan mendapat surga yang tinggi. Jadi selalu mencari ilmu, selalu menganalisis, selalu memaknai, selalu memiliki tradisi untuk menemukan makna dan nilai di setiap benda, di setiap yang dilihat, setiap yang didengar, di setiap yang dilakukan. Nah, surga anda tinggi. Tapi kalau anda ingin lebih tinggi lagi, anda bukan nomor satu beribadah, bukan nomor satu mencari ilmu, tapi anda menjadi pekerja keras. Barangsiapa melakukan pekerjaan-pekerjaan yang baik dengan keras, famayamalamalansholihah, maka dia bukan hanya mendapatkan surga karena surga kecil baginya, dia mendapatkan tempat tersendiri dimana dia hidup bersama Allah dan dibukakan wajahnya Allah.

Nah, bangsa Indonesia ini baru bangsa tingkat pertama yang rajin beribadah bikin sinetron yang direligi-religikan. Soal tingkat kedua yang VIP, ilmu kita masih sangat rendah kalau sudah ngobrol di kenduri cinta karena ngobrol liberalisme katanya kita ini kaum pluralis, liberalis. Tapi kalau melakukan kayak ini tadi terus katanya Islam eksklusif. “Dadi pokoke iku ngertine iku nek kuplukan mesti wong apik. Yo ngono thok.” Jadi tu ilmu kita baru sampai disitu. “Pekok sak pekok-pekoke tenan.” Saya menghormati temen saya yang menerbitkan buku The Peci Code. Bukan Davinci Code, tapi The Peci Code yang baru terbit hari ini. Nanti kalau ada waktu, kita mohon kedepan untuk memberikan sinopsisnya. Maksudnya kita ini orang yang masih linier berpikirnya ditengah empat cara berpikir, linier, zig-zag, spiral, dan sirkular atau siklikal atau kaffah dalam Islam. Nanti kita jelaskan kalau ada waktunya. Tapi intinya adalah kita ini gitu, saya ini di Jawa Tengah di kalangan kyai katanya Emha itu ikut liberal. “Gek liberal ki opo?” Saya itu bukan liberalis. Saya itu radikalis. Dibidang saya harus radikal, saya radikal. “Rabi radikal. Mosok rabi liberal? Terus nek bojo gak mulih-mulih terus nonggo” Gak bisa. Di dalam perkawinan, saya radikal dan fundamentalis. “Bojo yo bojo. Gak oleh diwolak-walik, diganti sama pembantu rumah tangga ndak bisa.” Jadi kalau saya harus liberal, liberal, ketika saya memerlukan satu mekanisme yang memang harus liberal. Tapi pada saat yang lain, yang diperlukan radikalisme. “Misale sunat. Sunat ki ojo moderat. Dikrikiti nggarissituk, wis.  Dikrikit situk, maring ngono setahun meneh upacara meneh dikrikiti meneh.  Sunat ki yo thel ! Radikal.. Liberal, “dadi sak karep-kerepe le nggunting diploke nganti tengah ngono, hayo..” ndak bisa. Liberal, radikal, fundamentalis, dan apapun saja jangan ikut siapa-siapa kecuali ikut pemikiranmu yang orisinil sendiri, dan itulah kita.

Makanya tadi saya sengaja ngaji-ngaji sama Gus Dur kayak gini pasti “woo ternyata Cak Nun NU”, “dadi ngono iku.. ndas growak ki ngono iku. Ngono terus NU, terus nek Muhammadiyah “allahummaarinalhaqohaqo warzuqnattibaah, Muhammadiyah.” “Pekok sak pekok pekoke”. Kita masih seperti itu, dan makin seperti itu. Nah, masyarakat kenduri cinta adalah calon pemimpin Indonesia baru yang berpikirnya sudah lebih nalar, lebih maju. Jadi jangan dipikir Kyai Kanjeng, “Kyai Kanjeng aliran opo? nek ngeneki mau” “woh ternyata ini aliran istighosah”. “Aliran kok istoghosah, aliran iku nek gak sungai yo listrik, lha itu aliran.”

Makanya sekarang saya minta anda tahu asal-usul musik Punk. Punk itu pelopornya adalah temennya David Bowi namanya dalam dunia musik disebut Igi Pop, dan nama aslinya James siapa, dia lahir di Michigan Detroit. Dia gurunya Mike Jeger, tapi dia tidak terkenal di Indonesia tapi bisa kalau nyari CD nya di Ratu Plaza situ di tingkat berapa itu yang murah-murah itu. Igi Pop itu kalu pentas sampai telanjang dan musik punk itu cirinya satu, notasinya hanya satu dua, gridnya satu dua tiga, paling tiga grid paling pol. Dum dum dum, paling gitu thok. Gak sampai “diwolak-walik”, nggak. Cuman des, des, des.. Kata-katanya satu dua kata, fucking fucking fucking, bullshit bullshit bullshit, jancuk, jancuk jancuk, dobol dobol dobol, gathel gathel gathel, prek prek prek. Cuma gitu thok.  Why? Kenapa? Karena si Igi ini sudah pusing sama pemerintah Amerika Serikat yang ngomong banyak kepada dunia, seolah-oleh dia mau menyelamatkan dunia, padahal mau merampok. Maka reaksinya musik punk cuman satu, fuck you.. fuck you.. fuck you.. ngono, dan namanya punk itu diambil dari Jawa Timur, Jaran Kepang. Nah, wis jelas ra. Hayo siapa berani loncat-loncat? Rumangsamu NU po aku iki? Yow..

Sumber: Youtube

About erwinpunyaku

Salam kenal bagi siapa saja yang mau berkenalan dan bersahabat dengan saya.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Pengunjung

free counters

%d blogger menyukai ini: