//
you're reading...
Bangkitkan Iman, Penasaran, Pengalaman

Tetesan air “Alhamdulillah”

“Alhamdulillah”, itulah ucapanku ketika menyaksikan tumbuh-tumbuhan mulai basah karena hujan di akhir musim kemarau. Menyenangkan rasanya melihat tanah kering perlahan menjadi segar, kata-katak bernyanyian setelah lama menahan suaranya. Namun kini di musim penghujan, hujan turun hampir setiap hari. Hujan yang mulanya membawa kebahagiaan bisa jadi menjadi sumber kekhawatiran bahkan ketakutan. Mungkin bukan hanya diriku yang merasakannya, orang lain pun juga merasakannya. Hujan bisa menjadi awal penyakit flu, rasa frustasi karena pakaian basah, bahkan menjadi faktor penyebab gagalnya aktivitas kita. Betapa kita tidak terganggu ketika jalanan dipenuhi aliran air, kita harus mengamankan pakaian kita dari tetesan air dari langit, suhu menjadi dingin tidak seperti biasanya.

 

Tunggu dulu. Itu adalah anggapan yang keliru  karena anggapan seperti itu menjadikan kita tidak mengucapkan alhamdulillah secara tulus, tidak mensyukuri nikmat, bahkan malah mencela turunnya kasih sayang-Nya. Iya. Hujan itu adalah curahan rahmat-Nya. Masa’ kita takut kepada rahmat-Nya? Ia berikan hujan secara cuma-cuma kepada kita? Bukankah hujan merupakan bentuk lahir kasih sayang-Nya?

 

Perlu kita pertimbangkan lagi, bahwa yang kita rasakan saat turunnya hujan adalah kebahagiaan. Bukankah begitu? Secara batin jawab saja iya. Namun, rasio akal kita yang kurang cermat menakar rasa suka dan rasa tidak suka terhadap sesuatu ini mendorong kita berpikiran serba logis menguntungkan. Betapa tidak, kita lebih suka pakaian kita kering daripada sekujur tubuh kita dibasahi air hujan. Padahal di tempat kita berada atau di daerah sekitar kita lebih banyak yang membutuhkan air tidak saja manusia tetapi tumbuhan dan hewan sangat membutuhkannya daripada diri kita. Ego kita merasa bahwa kepentingan kitalah yang paling menjadi prioritas. Memangnya siapa diri kita? Tuhankah? Kita ini hanya makhluk yang tunduk atas ketentuan-Nya. Ada hujan, ya disyukuri.  Alhamdulillah. Jangan sampai saat hujan turun, kita berhamburan seperti layaknya sedang dilanda bom dari langit.

 

Titik-titik air itu mendamaikan. Saat melihat butiran yang menetes dari dedaunan, rasa gelisah perlahan menghilang. Sirna oleh keelokan ciptaan Tuhan. Wahai Tuhan, sungguh Engkau Maha Pemurah.

About erwinpunyaku

Salam kenal bagi siapa saja yang mau berkenalan dan bersahabat dengan saya.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Pengunjung

free counters

%d blogger menyukai ini: