//
you're reading...
Bangkitkan Iman, Metafisika, Penasaran

Mengenal Tasawuf

Mari kita senantiasa berusaha meningkatkan keimanan dan keislaman kita semua dengan mengkaji kitab Al Hikam karangan syech Ibnu Atailah Asakandary. Kitab ini bisa dianggap rekaman laku, rekaman rasa dari yang meyusun yaitu Syech Ibnu Atailah. Sebelum mengkaji kitab ini perlu adanya pengantar supaya dalam pembahasannya nanti tidak ada kesalah pahaman.

Pertama yang harus kita ketahui adalah mengenai tasawuf secara umum, yaitu yang dilakukan oleh ulama salaf. Akhir-akhir ini banyak yang mempertanyakan, tasawuf itu sumbernya dari Islam apa tidak? Ada yang mencurigai praktek-praktek tasawuf itu meniru agama-agama lain. Ada yang menuduh praktek tasawuf itu sudah melenceng dari ajaran Rasulullah SAW. Anggapan seperti itu lumrah, karena suatu barang itu kalau bagus akan ada banyak yang imitasi. Misalnya merek rokok Gudang Garam, bungkusnya saja bisa ditiru karena tingginya nilai jual merek tersebut. Ketika orang meneliti, kebetulan yang diteliti itu bertepatan dengan yang imitasi itu kemudian menyimpulkan, “Oh kalau begitu tasawuf itu menyimpang.” Karena yang Ia lihat adalah yang imitasi. Banyak kasus seperti itu.

Perlu disadari, kita mempelajari tasawuf itu dengan apa? Apa kita mempelajarinya dengan kekuatan ilmu, dalam arti pengetahuan? Pengetahuan yang biasanya menggunakan alat yaitu pengamatan, observasi, ada hipotesa, macam-macam. Apa menggunakan kekuatan batasan-batasan hukum akal? Akal itu selalu bertanya-tanya tentang sebab dan akibat. Akal itu selalu ingin meneliti dan lalu menyimpulkan, menggunakan beberapa term. Apa dengan kesimpulan-kesimpulan digabung dengan kesimpulan kemudian dijadikan kesimpulan akhir? Contohnya: “Setiap manusia itu makan”, itu data awal. Ya kedua, “Hewan-hewan selain manusia itu makan”. Kemudian disimpulkan, “Kalau begitu manusia itu sama dengan hewan”. Kesimpulan seperti ini adalah hasil analisa akal. Apabila bahan awalnya sudah melenceng dan cara menyimpulkannya sudah salah maka akan terjadi kesimpulan yang salah. Apakah tasawuf itu akan dibahas dengan cara itu? Ada lagi kekuatan ketiga yang agak pas. Kekuatan manusia itu selain tahu, selain menyimpulkan dengan akal, manusia mempunyai kekuatan yang namanya ruh. Arti ruh adalah ruh. Istilahnya adalah aku nya pribadi manusia. Karena bila ruh itu dimaknai sebagai nyawa, masih diakui nyawaku, bukan aku. Ruh itu adalah ruh, jati diri kemanusiaan. Sering kali mendapat semacam pencerahan. Tiba-tiba tahu sesuatu. Contohnya akal itu bertanya, “Mulai kapan diriku tahu adanya akunya diriku?”, kita tidak akan bisa menjawab karena itu adalah pencerahan, akunya sendiri tahu akan akunya sendiri. Itu tidak pakai akal karena kalau pakai akal pasti lewat penelitian. Lewat penelitian dulu baru bisa menemukan aku. Kadang-kadang pelawak itu suka membanyol karena melenceng dari umumnya orang berpikir malah mengucap, “Aku mana? Aku mana?”. Itu karena sesuatu yang sudah jelas, tidak usah dicari sudah ada. Yang menerima pengertian tentan adanya aku adalah ruh. Prosesnya melalui pencerahan atau ilham.

Sebelumnya tadi, yang dimaksud dengan ilmu adalah pengetahuan. Jika kita ingin masuk ke dalam dunia tasawuf, dalam arti “alam tasawuf itu sendiri menggunakan ilmu atau pengetahuan”, maka yang namanya pengamatan itu hanya bisa mengamati kulit dan penampilan bentuk saja. Akhirnya ada yang beranggapan tasawuf itu adalah kalau ada orang yang memakai sarung agak kumal, bajunya lintingan, tidak wangi, kupluknya lama tidak ganti-ganti, kalau bersarung di bawah lutut, kemana-mana jalan kaki. Itu namanya bentuk penampilan lahir. Tasawuf bukan itu. Walaupun kadang ada murid tasawuf yang karena suatu pelajaran, dia melakukan seperti itu dan itu tidak selamanya. Akantetapi bukan itu tasawuf. Kita masih suka menyimpulkan dari melihat, katanya, kabarnya. Itu mesti kita akan keliru. Ibaratnya orang yang melihat pentas seni yang memerankan Sunan Kalijaga, yang dilihatnya hanya tampilan bukan Sunan Kalijaga. Akhirnya yang diketahui hanya bentuk pemeran Sunan Kalijaga itu,  padahal itu hanya pemeran Sunan Kalijaga, bukan Sunan Kalijaga. Itu bahayanya orang yang mengamati tasawuf dengan pengetahuan. Ada lagi yang mengamati tasawuf dengan akal, pakai hukum akal, logika untuk menyimpulkan suatu kesimpulan. Ketika kita menggunakan akal untuk memasuki lautan tasawuf yang sangat luas, kalau kita memasuki taman indahnya tasawuf, lalu kita hanya menggunakan akal yang serba bertanya dan mesti menyimpulkan, paling-paling kita hanya bisa mengamati materi lahir. Walaupun materi lahir ini bisa dijadikan sebagai bahan awal akal itu sendiri. Contohnya ada sebatang lidi, ada lagi sebatang lidi, disejajarkan kemudian disimpulkan yanitu ada dua lidi. Itu kemudian menjadi pedoman walaupun lidinya sudah tidak ada, akal menganggap satu ditambah satu sama dengan dua. Karena apa? Ya, bahan awalnya hanya dari materi. Padahal tasawuf bahan yang dipakai bukan materi, tapi langsung sesuatu yang ghaib, sesuatu yang begitu luas, semacam alam khayalan yang tak terbatas. Kalau hanya dengan akal, ibaratnya orang ingin mengarungi seluruh dirgantara, tapi dia hanya mengibarkan layang-layang. Apa bisa mencapai? Tidak akan bisa. Pesawat saja bisa kecelakaan, apalagi Cuma layang-layang yang bahanya tidak kuat. Apalagi ini menyangkut alam dibalik alam kemanusiaan itu sendiri yang itu terkait dengan murunnubuwah atau cahaya kenabian. Alam wahyu, alam ghaib, alam inti manusia yang manusia itu sendiri  adalah rahasia Allah SWT. Kalau hanya dipahami dengan akal, maka yang terjadi adalah penyempitan persoalan manusia itu sendiri. Untuk memudahkan kita memahami tasawuf, jangan menggunakan alat yang remeh-temeh. Begitu luasnya tasawuf yang mampu merasakan itu adalah hati kita masing-masing.

Pada kitab Al Hikam ada berbagai penjelasan yang mungkin bertentangan dengan kesimpulan akal orang pada umumnya. Sebenarnya yang salah bukan akalnya, tetapi bahannya yang untuk membuat kesimpulan itu kurang pas. Misalnya, orang yang usahanya rajin akan sukses jadi orang kaya. Ada perwujudan usaha, ikhtiar. Ada sebab yaitu usaha. Ada akibat yaitu hasil. Akal kemudian menyimpulkan bahwa munculnya kekayaan itu dari usaha. Karena yang diketahui akal hanya ini, kemana-mana akal selalu mengkampanyekan ini. Ini tidak pas karena tasawuf itu berawal dari pemahaman iman. Iman kita adalah ke hal yang enam, salah satunya bahwa ketentuan seluruh kehidupan ini ditentukan oleh Allah SWT. Sementara usaha, amal, ibadah, itu merupakan perintah. Kalau pendahuluannya sudah keliru, bekerja dan sukses itu dianggap saling berakibat, maka yang terjadi adalah kerancuan. Akal iman mengatakan bahwa sukses tidak sukses, datangnya rizki, itu adalah pemberian dari Allah SWT. Ini adalah bahan awal. Bahan kedua bahwa pekerjaan, amal, tindakan, ibadah, itu adalah perintah. Munculnya pemberian adalah dari takdir, munculnya usaha itu adalah dari perintah. Ini seperti kabel yang berbeda, kalau disambungkan akan konslet. Ketika konslet orang akan melingkar-lingkar akibatnya hidupnya hanya melingkar-lingkar dari satu usaha ke usaha yang lain akhirnya yang ia peroleh hanya ketidakpuasan takdir dari Allah SWT. Maka dari itu kalau kita menerima nikmat sejatinya bukan karena usaha karena kalau dimana-mana usaha pasti berhasil, kalau begitu tidak ada orang yang gagal. Secara kenyataan itu sudah salah. Akantetapi, karena akal itu terbujuk oleh nafsu yang sangat berambisi mengubah takdir itu tadi, maka ia melingkar-lingkar dari suatu kerepotan ke kerepotan yang lain. Sementara dia tidak akan dapat rasa tentram sedikitpun karena pada dasarnya ruhani kemanusiaan adalah sesuatu yang luas tak terbatas sementara yang namanya akal itu punya rancangan yang sangat terbatas. Ada lagi orang yang mengatur perilaku orang lain dengan akal maka yang terjadi adalah benturan-benturan sosial. Perilaku orang ditentukan oleh kemauannya sendiri-sendiri karena orang punya pertimbangan sendiri-sendiri. Akal punya penemuan sendiri-sendiri. Lalu ada penemuan akal orang yang satu untuk mengikat orang yang lain, pasti akan terjadi kegagalan. Contohnya komunisme gagal, kapitalisme gagal. Kalau tujuannya ingin menguasai mungkin bisa, tapi kalau tujuannya adalah ingin menentramkan kehidupan dengan sistim sosialisme, kapitalisme, itu semua akan gagal. Karena manusia itu rahasia Allah. Karena rahasia Allah hanya akan bisa ditentukan oleh aturan-aturan Allah itu sendiri. Jadi, kalau akal manusia ingin berusaha mengikat perilaku manusia itu namanya akal yang terbatas mengatur sesuatu yang tak terbatas.

Apa hubungan hal itu dengan tasawuf? Pada dasarnya tasawuf itu adalah mengajak orang untuk tunduk, sujud, membersihkan keinginan-keinginan yang tidak-tidak. Akalnya sujud kepada Allah, fisiknya sujud menurut aturan Allah, perilakunya sujud menurut syariat Allah, rohaninya sujud menerima seluruh keberadaan Allah. Itu kalau dipahami dengan akal tidak akan bisa karena akal itu hanya mau bertanya dan menjawab. Akal itu tahunya hanya sebab dan akibat, sementara Allah itu bukan sebab dan bukan pula akibat, tapi Allah itu pembuat sebab dan pembuat akibat. Apa bisa akal merasakan teori tasawuf? Jangankan merasakan teori tasawuf, akal merasakan hidupnya sendiri saja bingung. Kita pernah mengalami susah tetapi tidak ada sebabnya. Akal bertanya-tanya, kenapa aku susah? Padahal uang sudah pegang, pangkat sudah tinggi, tapi kok tetap susah dan susahnya itu karena apa? Kita bingung. Itu adalah soal ruhani, hal inti kemanusiaan. Makanya kadang-kadang larinya pada materi sehingga terjadi penurunan derajat kemanusiaan. Kekurangan kita ketika sudah ada materi yang berlimpah adalah kurang sujud. Karena sujud itu adalah watak dasar kemanusiaan itu sendiri. Kalau itu tidak dilakukan, maka kita akan merasa khawatir dan butuh pelampiasan. Pelampiasan yang keliru biasanya larinya ke narkoba, ekstasi, miras. Apa yang kita harapkan tidak sesuai dengan kenyataan. Cuma begitu-begitu saja kenikmatannya. Jadi dia berusaha menghilangkan akal tapi dengan cara yang tidak benar. Kalau kehilangan akal tapi mengarah ke derajat yang lebih tinggi, itu merupakan ajaran tasawuf. Apa itu tasawuf? Kalau seenaknya ngomong dikatakan tasawuf itu belajar menggila. Akantetapi menggila kepada Allah SWT. Makanya gerakan orang tasawuf ketika sedang shalat itu tidak dengar apa-apa persis seperti orang yang menggila.

Dzikir kadang disepelekan oleh orang-orang, padahal banyak manfaatnya. Tasawuf itu sebenarnya ketika belajar berdzikir dan shalat, berusaha merasakan itu. Sudah tidak berpikir lagi tentang salah, sah, tidak sah karena sudah dipelajari sebelumnya. Tasawuf itu menyangkut metodologi, bagaimana caranya untuk bertasawuf,  menyangkut letak posisi tasawuf itu dimana di tengah-tengah Islam, menyangkut apa tujuan bertasawuf, dan seterusnya. Memahami ajaran tasawuf jangan ditabrakkan terlebih dahulu dengan kesimpulan-kesimpulan umum. Didiamkan dulu, dirasakan sungguh-sungguh, baru Insya Allah itu ada pengaruhnya. Belum-belum kok yang ada adalah kecurigaan akal, tidak masuk akal. Memang tasawuf itu bukan urusan akal, walaupun suatu saat akal diajak berpikir tapi pada level tertentu akal itu dianggap sudah tidak berguna. Seperti kalau kita belajar menyetir mobil, pada saat praktek ya sudah buku petunjuk teori sudah tidak kita butuhkan lagi, masa’ iya kita menyetir sambil membaca buku petunjuk itu, nantinya malah berbahaya mobil yang kita kendarai bisa menabrak sesuatu. Ilmu tentang ibadah ketika masuk ke dalam tasawuf sudah bukan ilmu lagi, tapi sudah menjadi satu kesatuan gerakan ibadah itu sendiri kemudian dirasakan. Dari merasakan itulah akan munsul ilmu-ilmu baru dan rasa-rasa baru yang sebelumnya tidak pernah dirasakan. Tasawuf itu pada hakikatnya adalah totalitas kehidupan sufi memasuki ajaran Islam. Kalau Islam ada tasawuf, fiqih, tauhid, ini sebenarkan adalah hasil kesimpulan pemikir ulama-ulama terdahulu sementara tasawuf berusaha untuk merangkum seluruhnya untuk mengajak kembali kepada Allah SWT. Sesungguhnya hanya kepada Tuhanmulah segala sesuatu akan selesai. Selesainya urusan kita apabila segalanya sudah kembali kepada Allah SWT. Itu adalah gambaran singkat mengenai tasawuf.

Ulasan pengajian pengantar Al Hikam yang disampaikan KH Imron Djamil

About erwinpunyaku

Salam kenal bagi siapa saja yang mau berkenalan dan bersahabat dengan saya.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Pengunjung

free counters

%d blogger menyukai ini: