//
you're reading...
Bangkitkan Iman, Pengalaman

Dari Penikmat ke Penikmat

Pada awalnya saya termotivasi untuk bergabung di organisasi Al Ishlah sebagai wadah pengembangan diri saya sekaligus kontrol diri berlandaskan agama. Maklum, sekarang saya sudah Mahasiswa, terlibat di kalangan intelektual. Tentunya ada hal yang membedakan antara mahasiswa dengan siswa yaitu istilah jawanya adalah soyo nalar, baik dalam bersikap maupun dalam menyikapi sesuatu. Organisasi yes! Tapi juga harus ada kontrolnya, yaitu kontrol agama. Kalau tidak begitu, yang bisa terjadi adalah gangguan mental, karena pada aspek rohani tidak terisi sehingga menjadi tak seimbang. Kita hidup di dunia kan hanya sementara? Iya tidak? Setiap orang akan mengalami kematian. Kekekalan sejati ada setelah kita mati. Hidup di dunia ini hanyalah dalam rangka mempersiapkan bekal untuk hidup di alam berikutnya. Sebagai orang yang menyadari hal itu, seperti halnya ikut pengajian, saya ingin dekat dengan Yang Maha Kuasa. Tidak muluk-muluk ya, saya ingin menjadi hamba-Nya yang bertaqwa.

Saya melihat mahasiswa yang terlibat di organisasi ini sangat menjunjung tinggi norma, terutama norma agama. Kalau boleh dibilang, akhlaknya baik dan ibadahnya kencang. Saya mulai bercermin diri, ternyata banyak kekurangan pada diri saya, terutama dalam berakhlak. Saya berpikir, kalau baru tingkatan akhlak saja belum sampai, bagaimana saya bisa sampai kepada tingkatan taqwa? Dalam hati, saya juga ingin mendisiplinkan keinginan-keinginan yang tidak sesuai dengan aturan agama. Dengan penalaran seperti itulah saya kemudian memutuskan untuk bergabung di organisasi ini, paling tidak yang pertama ialah untuk membenahi akhlak pribadi. Benar-benar agamis organisasi ini, dengan slogannya yaitu, “Tiada yang kami inginkan selain perbaikan”. Sungguh menarik, memang agama kita yang berisi sistem tata nilai ini pada hakikatnya ialah sebagai petunjuk untuk mengarahkan kita kepada kebaikan. Berarti sudah jelas bahwa al ishlah menjadi wadah perbaikan bagi sesiapa yang mau terlibat di dalamnya. Sehingga istilah dakwah sangat umum terdengar di sini. Ya, saya tidak salah pilih organisasi.

Menjadi penikmat dakwah yang diselenggarakan, itu saya banget. Dulu saya begitu, di awal saya menjadi mahasiswa, banyak kajian, halaqoh, yang saya ikuti. Rajin ngaji pokoknya guna pendewasaan spiritual saya. Semakin lama saya tersadar, siapa lagi yang akan menyelenggarakan dakwah untuk generasi selanjutnya kalau bukan saya yang memulainya. Saya mencoba menambah peran saya menjadi pendakwah. Dari penikmat dakwah, menjadi penikmat dalam berdakwah. Ajakan untuk kebaikan bisa juga disebut dakwah kan? Mulai dari hal yang kecil tidak masalah. Namun, kita harus sadar bahwa manusia memiliki potensi untuk memilih. Dakwah yang kita selenggarakan akan mengalami banyak hambatan. Seperti penolakan, tak diacuhkan, tidak disukai, itu wajar dan manusiawi. Pilihan orang berbeda-beda. Sehingga dakwah yang kita selenggarakan tidak boleh bersifat memaksa. Karena manusia itu rahasia Allah. Rahasia Allah hanya akan bisa ditentukan oleh aturan-aturan Allah itu sendiri. Jadi, kalau manusia ingin berusaha mengikat perilaku manusia lain itu namanya kemampuan akal kita yang terbatas mengatur sesuatu yang tak terbatas. Semuanya kita kembalikan kepada-Nya.

Menyadari saya belum bisa membuat acara pengajian, apalagi memberi kesempatan orang lain untuk mengaji, saya mulai berdakwah dengan ajakan. Ajakan mengenal Allah dan berbuat kebaikan tidak hanya lewat organisasi tetapi lebih luas dari itu, bukankah kita bisa melakukannya dimana saja termasuk di lingkungan tempat kita berada. Benar kalau kita ini wajib berikhtiar, namun perkara hasil Tuhanlah yang berhak menentukan. Perkara usaha dan hasil itu bukan sesuatu yang saling mempengaruhi, usaha adalah perintah-Nya sedangkan hasil adalah pemberian-Nya. Dengan ketidakcemasan kita masalah hasil yang kita dapatkan setelah berdakwah, kita akan lebih bersemangat untuk berdakwah. Kita bangkitkan semangat kebersamaan dan kekeluargaan dalam berdakwah. Semoga kita senantiasa mendapatkan rahmat dan barokah dari-Nya lewat usaha yang kita lakukan. Tidak lupa mudah-mudahan setiap aktivitas kita dalam organisasi ataupun di luar yang tujuannya ialah untuk mengarahkan kepada kebaikan, dicatat di sisi Tuhan sebagai amal kebaikan kita. Tanpa pamrih, diniatkan untuk beribadah berlandaskan ketulusan. Insya Allah.

 

Tulisan ini dibuat dalam rangka mengisi Buku Cerita Dakwah Kampus yang merupakan program akhir tahun Jamaish FIS UNY 2012

About erwinpunyaku

Salam kenal bagi siapa saja yang mau berkenalan dan bersahabat dengan saya.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Pengunjung

free counters

%d blogger menyukai ini: