//
you're reading...
Pecinta

Asmara Laila Majnun

Kerinduan, selain melahirkan rasa mandiri dan harapan yang mendalam, juga kerap membuat mabuk dan gila. Mirip dengan kisah cinta Majnun dan Laila yang legendaris. Seperti diceritakan Abul Qasim al-Hasan an-Naisabury, suatu hari Majnun pernah ditanya seseorang: “Apa yang menyebabkan engkau begitu kasmaran dengan Laila?” Ia menjawab, “Suatu ketika aku berada di kota Anfuwan. Aku melihat gadis-gadis bermain lompat tali dan melampar-lempar di sebuah anak bukit. Aku mencoba bergabung dengan mereka, namun mereka berlari tercerai-berai. Aku mencoba melucu, namun mereka tidak mempedulikannya. Saat itulah tiba-tiba aku terkait tali seorang gadis yang kemudian menawan hatiku. Aku pun berangan-angan dapat mencintainya, dan ia mencintaiku pula. Sejak itulah aku menjadi mabuk kasmaran.”

tak kulihat Laila kecuali sekejap saja

tiba-tiba dalam bisuku, menyembur bara api

tampaknya pijar saat dari jauh kulempar pandang

atap-atap rumah berwarna-warni ketika pagi

tiba ceria Laila kulihat seperti bintang kejora di subuh buta

tapi aku telah terpana, wahai purnama

mengapa dikau sirna seakan tertipu angin kembara

Cinta berpendaran dalam perasaan Majnun dan Lila, yang membuat mereka mabuk kepayang lantaran mereka memiliki jarak. Ada ruang yang memisahkan mereka. Majnun jadi serba salah. Di dalam dirinya berbaur antara keraguan dan harapan cintanya akan diterima Laila. Sebaliknya, begitu pula Laila.

Suatu hari pernah Laila ditanya, “Besar mana cintamu kepada Majnun atau cinta Majnun kepadamu?” Ia menjawab, “Rasa cintaku kepadanya lebih besar!” Ditanyakan lagi, “Lho kok bisa begitu? Jawab Laila, “Cintanya kepadaku begitu terkenal, sementara cintaku kepadanya begitu tersembunyi.”

Pernah Majnun berkunjung ke kampung halaman Laila, lalu ia mendatangi seorang wanita yang sangat dekat dengan Laila. Ia pun menceritakan apa yang tengah dialaminya. Wanita itu pun berjanji untuk mempertemukan mereka berdua. Wanita itu segera berlalu mencari Laila. Ia pun mempertemukan sepasang kekasih yang sedang kasmaran itu. Begitu bertemu, Majnun segera bersyair.

amboi

ketika berdekatan aku kebingungan

dekat tak lebih manis ketimbang jauh

bila ia berjanji, cinta membara nantinya

bila tak berjanji

aku mati diatas janji

semuanya jadi penawar

namun tak menyembuhkan kita

sungguh dekat dengannya, lebih baik ketimbang jauh

Karena disergap oleh kerinduan dan rasa kasmaran yang tiada kapalang itulah Majnun terlihat seperti orang  yang gila. Sampai-sampai seorang temannya memohon kepada ayahnya untuk memanggilkan Majnun seorang dokter. “Mohon Ayah, carikan seorang dokter, mungkin ia dapat melihat apa yang sedang menimpa Majnun.” Ayahnya pun segera memanggil, bikan hanya seorang tapi beberapa orang, yang kemudian satu per satu mengobatinya. Akan tetapi, setelah mengetahui bahwa penyakitnya tak dapat disembuhkan, Sang Ayah membiarkannya. Majnun pun bersenandung:

wahai dokter jiwa, dikaulah penyembuhnya

amboi jiwa telah dikeringkan kekasihnya

berikan padaku seteguk kasihmu, wahai Laila

yang menguatkan hatiku yang lara…

Beberapa teman majnun mengajukan ususl kepada Ayah mereka. “Begini saja, mungkin kita harus mengajaknya menunaikan ibadah haji. Dengan begitu ia akan melupakan Laila.” Namun saat melempar jumrah, tiba-tiba muncul seorang yang berteriak dari sebuah tenda, “Wahai Laila!” Mendengar teriakan itu Majnun langsung pingsan. Bayangkan, hanya kata “Laila saja” disebutkan, bisa membuat Majnun pingsan, apalagi beberapa kata misalnya: “Laila.. Laila.. Laila..”, mungkin ia pingsan keterusan sampai kuburan. Sesaat setelah sadar Majnun pun bersenandung:

bergemalah suara seorang yang memanggil

suara yang menyesakkan dadaku

gemuruh lara menggumpal di dada

tak tahu mengapa

padahal ia memanggil

lain Laila pula namanya

seakan ada yang terbang dalam hati

hatiku melayang ketika disebut namanya

laksana burung pipit mengisap rintik hujan

Suatu kali pernah Laila dipernjara bersama Majnun. Ini bukan lagi taraf kerinduan, tapi pasca kerinduan, yakni pertemuan. Dikatakan kepada Majnun, “Keluarlah kau!” Majnun menjawab, “aku tidak akan keluar. Di penjara bersama kekasihku lebih baik ketimbang terpisah darinya!” Majnun diusir. Datanglah orang untuk menghiburnya. Kemudian ia bersenandung:

bersama kekasih, malam jadi siang

hari-hari pertemuan begitu pendek

bersama kekasih, penjara adalah surga Firdausku

di neraka pun bagiku adalah cahaya

Kelakuan Majnun seperti orang yang kerasukan dan mabuk cinta ini dicela oleh teman-temannya. “Hei Majnun, engkau hanya mempermalukan diri dan keluargamu.” Majnun hanya menjawab:

aku ingin melupakannya

namun Laila selalu terbayang di sepanjang jalan

jangan mencelaku, wahai Said

demi kebenaran Tuhanku

aku hanya hancur karena sejenak saja

Kerinduan memang dapat membuat orang sakit bahkan terlihat gila seperti Majnun. Memang, biasanya orang yang dibakar oleh bara api kerinduan akan bersikap yang aneh-aneh. Badan jadi kurus karena kurang makan. Sering menyendiri di kamar selama berhari-hari. Kalau sedikit kreatif, ia akan menulis prosa panjang tentang kisah cintanya bersama kekasihnya atau setidaknya membuat berpucuk-pucuk surat. Tapi tidak sedikit yang sakit beneran. Kalau kita melihat teman, sanak, atau keluarga kita sakit, maka kita harus mengecek apakah kekasihnya ada dalam kota yang sama atau sedang bepergian jauh. Bila sedang berada jauh di luar kota, kemungkinan terbesar dari sakitnya adalah karena rindu asmara. Kalau itu yang terjadi, bukan dokter obatnya. Dijamin tak akan sembuh. Sebab satu-satunya obat sakit perindu adalah pertemuan.

Ringkasan dari tulisan Muhidin M. Dahlan dalam bukunya Mencari Cinta

About erwinpunyaku

Salam kenal bagi siapa saja yang mau berkenalan dan bersahabat dengan saya.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Pengunjung

free counters

%d blogger menyukai ini: