//
you're reading...
Geje aja

Apa Pedulimu?

Kepedulian. Kata ini muncul begitu saja di pikiranku. Saat malam semakin larut menjelang pagi, aku mendapatkan kata ini untuk kurenungkan. Orang-orang ada yang beranggapan bahwa diri mereka sangatlah berharga hingga tidak bisa ditukar dengan apapun. Namun, ada juga orang yang mencaci diri mereka sendiri karena kesalahan yang mereka perbuat. Apakah diri sendiri/pribadi/jati diri/apapun itu sebutannya berhak menerima itu? Semua hal akan seperti lenyap dan tak ada artinya. Begitu cepat segalanya berlalu hingga kita tidak menyadari ketidakberdayaan kita menjalani hidup. Mungkin. Serba mungkin. Ada kemungkinan. Cara yang benar, cara yang salah, cara yang ini, dan cara yang itu. Beredar pada jalur masing-masing. Semakin lama, menjelang pagi, semakin aku diselimuti hawa dingin kesendirian. Mencoba membangun jati diri dengan memikirkan masa depan sangat menyenangkan. Bermimpi dengan hal-hal indah masa depan. Ya, biarpun hening, inilah hidup. Ada kalanya kita berada di antara orang-orang, ada kalanya kita hidup jauh dari orang-orang. Beruntunglah mereka yang mempunyai daya untuk menyelaraskan kehidupan menuju mimpi mereka. Ini juga barangkali yang membuatku berpikir seperti apa jati diriku sebagai seorang pria. Suatu misteri pada cerita kehidupan yang tidak akan ada ujungnya. Aku bercermin apakah kepedulian ini berhubungan dengan kehidupanku, terutama diriku sebagai seorang pria. Aku melihat ada harapan, kebahagiaan masa depan. Entah itu kapan, masih menjadi misteri. Kadang aku juga melihat kelemahan diriku dalam cermin. Kadang diriku menjadi api yang membakar cermin itu sehingga tak nampak apapun sebagai cerminan diriku. Lalu bagaimana aku melihat diriku? Jika aku saja kehilangan bayangan diriku. Apa peduliku mengenai hal ini? Sebagai seorang pria aku bertanggungjawab atas kelangsungan hidupku. Berani menatap masa depan yang penuh tantangan. Tak mengenal keluhan. Berjalan dengan tenang. Kokoh memegang prinsip. Menjadi sesosok pria di antara kehidupan. Menjadi seorang pribadi di antara banyaknya orang di dunia. Menjadi Cuma seorang. Seseorang. Seorang dirikah? Pertanyaan ini muncul tatkala diriku merasa ada yang kurang. Bukankah segala ciptaan Tuhan diciptakan secara berpasang-pasangan? Pertanyaan ini cukup membuatku semakin dalam memikirkan. Siapa yang kau sayangi? Siapa yang kau rawat? Siapa yang merawatmu? Akupun tertunduk lesu memikirkan jawaban atas pertanyaan ini. Mungkin hanya Tuhan yang tahu jawabannya. Aku tidak tahu takdirku sendiri. Yang aku tahu, aku harus berusaha keras untuk sesuatu yang telah ditakdirkan untukku. Aku punya keinginan, tapi kenapa aku ingin? Keinginan, mungkinkah dapat disandingkan dengan kepedulian? Mungkin saja pikirku. Keinginan melahirkan kepedulian, atau sebaliknya. Keinginan yang melahirkan kepedulian adalah kepedulian itu sendiri. Sedangkan kepedulian yang melahirkan keinginan adalah keinginan itu sendiri. Semuanya serba mungkin. Aku seakin mendapatkan titik terang dengan daya yang kumiliki, begitu juga dengan daya yang dimiliki setiap orang.

About erwinpunyaku

Salam kenal bagi siapa saja yang mau berkenalan dan bersahabat dengan saya.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Pengunjung

free counters

%d blogger menyukai ini: